“Tidak ada tindakan militer yang dapat membenarkan sikap semacam ini,” tambahnya.
Patriarkat Ortodoks Yunani di Yerusalem juga mengutuk serangan tersebut, menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap martabat manusia dan kesucian hidup serta situs keagamaan, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan di masa perang.”
Mereka memperkirakan terdapat sekitar 600 pengungsi yang berlindung di dalam gereja saat serangan terjadi, sebagian besar adalah anak-anak dan 54 orang penyandang disabilitas.
Gereja Keluarga Kudus berada di wilayah Gaza City yang sebelumnya telah diperintahkan oleh militer Israel untuk dikosongkan.
Caritas mengatakan Romo Romanelli telah meminta warga tetap berada di dalam ruangan “karena kehadiran tank Israel di dekat kompleks gereja dan serangan terus-menerus di sekitar area tersebut.”
“Kalau saja Romo Gabriel tidak memperingatkan kami untuk tetap di dalam, kami bisa kehilangan 50 hingga 60 orang hari ini. Itu akan menjadi pembantaian,” kata salah satu staf Caritas.
Lebih dari 20 orang dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Gaza pada Kamis itu.