Dilema! Akankah Pemerintah Suriah Akan Normalisasikan Hubungan dengan Israel

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Rabu, 2 Juli 2025 | 15:17 WIB
Ahmed All-Sharaa alias Al Jolani, pemimpin defacto HTS Suriah (harici.dom)
Ahmed All-Sharaa alias Al Jolani, pemimpin defacto HTS Suriah (harici.dom)

KLIK SAJA - Setelah hampir 14 tahun dilanda perang, pemerintahan baru Suriah kini mulai menata ulang hubungan regionalnya, dan salah satu sorotan utama adalah bagaimana hubungan dengan Israel akan berkembang.

Suriah kini tengah dalam sorotan dunia Islam, apakah pemerintahan baru akan membela kepentingan Palestina atau malah jusru Pro Israel.

Terdapat laporan mengenai pembicaraan antara Suriah dan Israel, bahkan beberapa pihak menyebutkan adanya garis waktu menuju kemungkinan normalisasi hubungan antara kedua negara yang secara teknis masih berada dalam status perang sejak konflik Arab-Israel pada 1948.

Media Israel menyebutkan bahwa Suriah dan Israel telah mengadakan pembicaraan langsung untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan normalisasi.

Komunikasi antara kedua negara ini dilaporkan difasilitasi oleh Uni Emirat Arab, yang membuka jalur komunikasi rahasia sebagai penghubung.

Kesepakatan apa pun yang mungkin terjadi kemungkinan besar akan menjadi bagian dari Abraham Accords—sebuah perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat antara beberapa negara Arab dan Israel.

Abraham Accords merupakan pendekatan dari atas ke bawah oleh Donald Trump saat menjabat sebagai Presiden AS, dengan tujuan mendorong negara-negara Arab untuk meresmikan hubungan dengan Israel.

Perjanjian ini ditandatangani pada Agustus dan September 2020 oleh Uni Emirat Arab dan Bahrain, dan kemudian diikuti oleh Sudan serta Maroko.

Sejak saat itu, Trump terus mendorong perluasan kesepakatan tersebut dengan menekan lebih banyak negara agar menandatangani perjanjian dengan Israel.

Pada Mei lalu, Trump mengunjungi tiga negara di Timur Tengah dan saat berada di Arab Saudi, ia bertemu dengan Presiden Suriah yang baru, Ahmed al-Sharaa, dan dilaporkan mendorongnya untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Suriah dan Israel memiliki permusuhan mendalam yang semakin memburuk sejak perang Arab-Israel 1967 dan pendudukan Dataran Tinggi Golan oleh Israel.

Menteri Pertahanan Israel, Gideon Saar, menyatakan bahwa negaranya akan tetap mempertahankan pendudukan di Dataran Tinggi Golan dalam kesepakatan apa pun dengan Suriah.

Militer Israel bahkan memperluas pendudukannya di Golan, menduduki rumah-rumah warga dan mengusir penduduk dari wilayah tersebut.

Menurut para analis, banyak warga Suriah yang menolak melepaskan Dataran Tinggi Golan kepada Israel. Namun, sebagian masyarakat juga mungkin menyambut baik adanya negosiasi yang bersifat rasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X