Israel Serang Kafe Langganan Aktivis dan Jurnalis di Gaza, Dikabarkan 20 Korban Tewas

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 1 Juli 2025 | 12:01 WIB
Ruins of Gaza Cafe (CNN)
Ruins of Gaza Cafe (CNN)

Gencatan senjata dua bulan sebelumnya runtuh pada bulan Maret saat Israel kembali melancarkan serangan udara ke Gaza. Kesepakatan gencatan senjata — yang dimulai pada 19 Januari — seharusnya dilaksanakan dalam tiga tahap, namun tidak pernah melewati tahap pertama.

Israel kemudian menerapkan blokade total terhadap bantuan kemanusiaan ke Gaza, yang kemudian sebagian dilonggarkan setelah 11 minggu, menyusul tekanan dari sekutu AS dan peringatan kelaparan dari para pakar internasional.

Pelonggaran parsial ini melahirkan Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah lembaga bantuan yang didukung AS dan Israel.

Namun, sejak GHF mengelola distribusi bantuan, insiden kekerasan terhadap warga Palestina yang mencari bantuan terjadi hampir setiap hari.

Saksi mata dan petugas medis menyalahkan Israel atas insiden-insiden tersebut, meskipun Israel mengklaim hanya melepaskan tembakan peringatan terhadap individu yang dianggap mengancam.

Warga Gaza City menyatakan bahwa puluhan serangan udara Israel menyasar kawasan padat penduduk di bagian timur, termasuk Shujaiya, Tuffah, dan Zeitoun.

Video yang diunggah aktivis menunjukkan kekacauan dan ledakan yang menerangi langit malam, disusul kobaran api dan asap tebal membubung ke langit.

Lima korban jiwa dilaporkan tewas dalam serangan di kamp pengungsi Al-Shati, di bagian barat Gaza City.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebelumnya telah memerintahkan warga untuk meninggalkan sebagian besar wilayah utara Gaza, sebagai antisipasi serangan.

Namun, sebagian besar warga yang mengungsi lebih memilih berpindah ke wilayah barat Gaza City, bukan ke wilayah selatan seperti yang diperintahkan.

Di tengah krisis kemanusiaan yang kian memburuk, muncul kekhawatiran bahwa perintah evakuasi dan serangan udara yang terus berlangsung merupakan bagian dari rencana Israel untuk memperluas serangan darat lebih dalam ke wilayah Gaza.

Namun, media Israel juga berspekulasi bahwa beberapa jenderal mulai menyimpulkan bahwa operasi militer di Gaza hampir mencapai tujuannya.

Hal ini juga menjadi pendapat banyak mantan petinggi militer yang khawatir jika konflik di Gaza berubah menjadi perang gerilya yang berkepanjangan, akan menyebabkan lebih banyak korban — baik dari pihak sandera, warga sipil, maupun tentara.

Langkah berikutnya dari Perdana Menteri Netanyahu kini menjadi sorotan dunia.

Meskipun insting politik Netanyahu cenderung untuk terus melanjutkan perang dan mengalahkan Hamas, tekanan dari dalam negeri maupun internasional untuk mengupayakan gencatan senjata semakin meningkat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X