KLIK SAJA - Setelah 12 hari pertempuran sengit yang memicu kekhawatiran global, Iran dan Israel akhirnya menyetujui gencatan senjata pada Selasa, 24 Juni 2025.
Namun, berakhirnya konflik tidak menghentikan saling klaim kemenangan dari kedua belah pihak.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut hasil ini sebagai “kemenangan bersejarah,”.
Sementara Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengklaim bahwa Republik Islam-lah yang sesungguhnya berjaya dalam menghadapi koalisi Israel-Amerika.
Netanyahu menyatakan bahwa serangan militer Israel telah memundurkan program nuklir Iran selama bertahun-tahun, dengan sejumlah fasilitas strategis yang dihantam melalui koordinasi militer intensif, termasuk serangan bunker-buster yang dijatuhkan Amerika Serikat atas permintaan Tel Aviv.
Ia juga menegaskan bahwa “Iran tidak akan memiliki senjata nuklir” di bawah pengawasan Israel.
Namun, narasi kemenangan ini mendapat tantangan besar dari laporan intelijen Amerika Serikat yang bocor ke media.
Dalam laporan tersebut, intelijen AS menyimpulkan bahwa serangan itu hanya menghambat program nuklir Iran selama beberapa bulan—jauh dari tujuan semula untuk menghancurkannya secara total.
Gedung Putih mengakui kebenaran laporan itu, meski juru bicara Karoline Leavitt menyebutnya sebagai penilaian yang "salah besar".
Di sisi lain, Iran juga tidak tinggal diam. Ayatollah Khamenei menyampaikan dalam pidatonya bahwa “rezim Zionis” hampir runtuh di bawah tekanan balasan militer Iran, termasuk serangan ke pangkalan militer AS di Qatar.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah tunduk kepada tekanan AS, sambil menyampaikan terima kasih kepada para pejuang dan petugas keamanan negaranya.
Jika dilihat dari kerusakan dan jumlah korban, militer Israel unggul secara militeristik: lebih dari 610 warga Iran tewas dan ribuan terluka, termasuk sejumlah petinggi militer dan ilmuwan nuklir.
Namun jika dinilai dari tujuan strategis, Israel gagal mencapai dua target utama: menghancurkan total fasilitas nuklir Iran dan menggulingkan rezim Republik Islam.
Fasilitas nuklir Iran sebagian besar masih utuh, dan rezim di bawah Khamenei justru mendapat dukungan kuat dari rakyatnya setelah konflik.