KLIK SAJA - Jagat media sosial tengah ramai dengan gelombang simpati yang dimunculkan oleh pemerintah dan tokoh-tokoh publik Israel, menyusul serangan rudal Iran yang mengenai rumah sakit Soroka di wilayah selatan Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sejumlah influencer pro-Israel tak henti menarasikan betapa "biadab" dan "tidak berperikemanusiaan"nya serangan tersebut, menggambarkan Iran sebagai ancaman brutal yang menyerang fasilitas sipil.
Namun, narasi tersebut dengan cepat dipatahkan oleh kenyataan di lapangan: bahwa Israel sendiri secara terang-terangan telah menyerang tiga rumah sakit di Teheran hanya dalam waktu kurang dari sepekan.
Serangan ini terjadi dalam rangkaian konflik yang meletus sejak Israel menggempur sejumlah lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir, pada Jumat lalu.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan rudal ke berbagai wilayah Israel. Namun yang menjadi sorotan tajam adalah fakta bahwa dalam serangan balasannya, Iran menargetkan infrastruktur militer dan strategis, sementara Israel malah menyerang fasilitas sipil yang dilindungi hukum internasional—seperti rumah sakit.
Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, pada Jumat pagi, 20 Juni 2021 pukul 04.45 waktu setempat, sebuah rumah sakit kembali dihantam roket tentara Israel.
“Ini adalah rumah sakit ketiga yang diserang di ibu kota sejak konflik ini dimulai,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan resmi.
Selain itu, enam ambulans dan satu pusat layanan kesehatan juga ikut menjadi sasaran.
“Dalam tujuh hari terakhir, terdapat lebih dari enam pelanggaran konvensi internasional oleh rezim pendudukan Yerusalem,” tambah Kermanpour, merujuk pada Konvensi Jenewa yang melindungi fasilitas medis dalam situasi perang.
Sementara media Barat tampaknya lebih fokus pada kerugian Israel, laporan dari Iran mengungkapkan bahwa hingga saat ini, lebih dari 639 warga sipil tewas dan lebih dari 1.300 lainnya luka-luka akibat serangan Israel.
Angka ini jauh melebihi jumlah korban di pihak Israel yang dilaporkan sebanyak 25 orang tewas.
Kemunafikan pemerintah Zionis terlihat jelas.
Mereka menggambarkan diri sebagai korban yang tak berdaya, padahal mereka sendiri memulai serangan dan tak segan menghancurkan fasilitas publik yang harusnya dilindungi.
Media sosial global kini dipenuhi konten playing victim dari Israel—video yang menggugah simpati, foto rumah sakit mereka yang rusak, dan narasi penuh air mata.