KLIK SAJA - Ketegangan antara Israel dan Iran mencapai puncaknya ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka menyatakan niatnya untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Netanyahu beralasan bahwa Iran, di bawah kepemimpinan Khamenei, terus mengembangkan senjata nuklir yang dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi Israel.
Bahkan, menurutnya, kematian Ali Khamenei akan menjadi akhir dari perang antara kedua negara.
Pernyataan ini mengejutkan dunia dan menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Donald Trump.
Meskipun belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran, sejumlah kanal Telegram pro-Iran menyatakan bahwa Ayatollah Khamenei telah merespons ancaman tersebut dengan keteguhan luar biasa.
Ia menyatakan bahwa hidupnya bukan hal yang penting, dan kematiannya tak akan menghentikan perjuangan bangsa Iran.
“Bahkan jika mereka membunuhku, jangan anggap itu sebagai kerugian bagi kami, selama kita tetap setia pada prinsip-prinsip Imam Hussain,” ujarnya.
Siapakah Ayatollah Ali Khamenei?
Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939. Ia merupakan ulama besar Syiah (Marja) sekaligus Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sejak tahun 1989, menggantikan Imam Ruhollah Khomeini.
Menurut Pasal 107 dan 110 Konstitusi Iran, posisi Pemimpin Tertinggi berada di atas presiden, menjadikannya otoritas politik dan religius tertinggi di negeri itu, sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.
Perjalanan hidup Khamenei sarat dengan perjuangan. Ia mengenyam pendidikan agama di kota-kota besar seperti Masyhad, Qom, dan Najaf.
Sejak muda, ia sudah terlibat dalam gerakan Islam revolusioner, termasuk berkenalan dengan Navvab Safavi, tokoh Islam radikal yang menjadi inspirasinya.
Ia mulai aktif menentang Dinasti Pahlavi dan beberapa kali ditangkap hingga akhirnya diasingkan.
Setelah Revolusi Iran 1979, Khamenei menempati berbagai posisi penting: menjadi anggota Dewan Revolusi, Imam Salat Jumat Teheran, Wakil Menteri Pertahanan, anggota parlemen, hingga Presiden Iran selama dua periode.