KLIK SAJA - Pada Jumat lalu, dunia kembali diguncang oleh ketegangan geopolitik paling tajam dalam beberapa dekade terakhir: Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Iran.
Tak lama setelahnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris yang ditujukan langsung kepada rakyat Iran.
Ia mengajak mereka untuk bangkit melawan apa yang disebutnya sebagai “rezim jahat dan menindas.”
Alasan utama yang disampaikan Netanyahu atas serangan ini adalah tuduhan bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir yang mengancam eksistensi Israel.
Namun, pertanyaannya tetap: benarkah Iran benar-benar memiliki senjata nuklir, atau ini hanya narasi politis Zionis Israel yang dibentuk untuk kepentingan tertentu?
Karier politik Netanyahu memang dikenal lama diwarnai oleh misinya untuk "memperingatkan dunia" terhadap ancaman Republik Islam Iran.
Dari menunjukkan kartun bom nuklir di mimbar PBB hingga menyuarakan ancaman nuklir Iran dalam hampir setiap krisis regional, Netanyahu menjadikan isu ini sebagai pilar utama strategi politik dan militernya.
Namun, bukan berarti dunia internasional sepenuhnya sejalan dengan narasi Netanyahu.
Bahkan, sejumlah presiden AS—termasuk Donald Trump—pernah menolak memberi lampu hijau untuk serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Walau begitu, Netanyahu tetap melangkah, dan kini ia terlibat penuh dalam sebuah konfrontasi besar yang dapat mengguncang tatanan regional.
Serangan Israel menuai kecaman luas dari berbagai negara dan organisasi internasional, termasuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menegaskan bahwa fasilitas nuklir tidak boleh diserang dalam kondisi apa pun. Dari sudut pandang hukum internasional, aksi militer ini dianggap ilegal.
Pertanyaan penting pun muncul: apakah benar ancaman senjata nuklir Iran sedemikian nyata hingga membenarkan tindakan sepihak Israel?
Iran sendiri terus membantah tuduhan tersebut. Bahkan, menurut laporan terbaru IAEA, Iran memang telah memperkaya uranium hingga 60% — mendekati ambang batas senjata (90%) — tetapi belum ada bukti kuat bahwa Iran benar-benar sedang membangun bom nuklir.