Pemerintah Taliban Larang Permainan Catur dan MMA di Afghanistan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 12 Mei 2025 | 04:56 WIB
sebuah turnamen Catur di Kandahar, sebelum kedatangan Pemerintah Taliban (AFP)
sebuah turnamen Catur di Kandahar, sebelum kedatangan Pemerintah Taliban (AFP)

KLIK SAJA - Pemerintah Taliban di Afghanistan kembali membuat kebijakan kontroversial. Kali ini, mereka melarang permainan catur secara nasional dengan alasan bahwa permainan ini merupakan “sarana perjudian” yang diragukan kesesuaiannya dengan hukum Islam.

Larangan tersebut, yang berlaku tanpa batas waktu, disampaikan oleh Atal Mashwani, juru bicara direktorat olahraga pemerintah Taliban, yang menyatakan bahwa ada “pertimbangan agama” terkait permainan tersebut.

Langkah ini menambah daftar panjang aktivitas sipil dan olahraga yang telah dilarang sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021.

Sebelumnya, Taliban telah melarang perempuan dari hampir semua bentuk partisipasi olahraga, termasuk kegiatan rekreasi dasar.

Seni bela diri campuran (MMA) juga dilarang karena dianggap terlalu "keras" dan “bertentangan dengan syariah”.

Kini, catur—sebuah permainan intelektual yang dikenal luas di seluruh dunia, termasuk di banyak negara mayoritas Muslim—menjadi korban terbaru dari pendekatan ekstrem mereka.

Catur bukan sekadar permainan papan. Ia adalah olahraga mental yang mengasah logika, kesabaran, dan strategi.

Di negara-negara seperti Iran, Turki, dan Indonesia—semuanya negara mayoritas Muslim—catur tidak hanya diperbolehkan, tetapi juga dipromosikan sebagai sarana pendidikan dan pengembangan kecerdasan.

Larangan Taliban ini mencerminkan sudut pandang yang sempit dan dangkal terhadap syariah, mengaburkan esensi ajaran Islam yang sejatinya menghargai ilmu, akal, dan keseimbangan.

Larangan ini tidak hanya berdampak pada dunia olahraga, tetapi juga pada kehidupan sosial masyarakat Afghanistan.

Azizullah Gulzada, seorang pemilik kafe di Kabul yang biasa menggelar kompetisi catur informal, mengaku larangan ini akan merugikan bisnisnya.

"Anak muda sekarang tidak banyak beraktivitas, jadi banyak yang datang ke sini setiap hari. Mereka akan minum teh dan menantang teman-teman mereka untuk bermain catur," katanya.

Dengan dilarangnya catur, ruang sosial yang sehat dan produktif bagi anak muda semakin dipersempit.

Kehadiran kembali Taliban sebagai pemegang kekuasaan di Afghanistan tampaknya tidak membawa harapan, melainkan pengekangan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: BBC

Tags

Rekomendasi

Terkini

X