China Tegasi Trump: Jika Inginkan Perundingan, Tarif Harus Dibatalkan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Jumat, 25 April 2025 | 14:49 WIB
ilustrasi perang dagang China-AS (breakbulk)
ilustrasi perang dagang China-AS (breakbulk)

KLIK SAJA - Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas setelah Beijing secara tegas menyampaikan syarat mutlak bagi kelanjutan dialog dagang dengan Washington: pembatalan seluruh tarif sepihak yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump.

Dalam pernyataan resmi yang menjadi salah satu yang paling keras sejak konflik dagang dimulai, juru bicara Kementerian Perdagangan China, He Yadong, menyatakan bahwa Amerika harus terlebih dahulu mencabut seluruh tarif jika serius ingin menyelesaikan perselisihan.

Ia pun menegaskan, “Orang yang mengikat lonceng harus melepaskannya,” mengibaratkan bahwa tanggung jawab penyelesaian ada di tangan pihak yang memulai.

Pernyataan ini sekaligus membantah klaim dari Trump yang sebelumnya mengatakan bahwa negosiasi antara kedua negara "aktif".

Sementara itu, dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa tidak ada konsultasi atau negosiasi yang sedang berlangsung, dan menyebut kabar sebaliknya sebagai "keliru".

Saat ini, AS telah menerapkan tarif hingga 145% pada berbagai produk impor dari Tiongkok, mulai dari barang elektronik, tekstil, hingga komponen kendaraan.

Sebagai balasan, Tiongkok pun mengenakan tarif hingga 125% terhadap barang-barang asal Amerika Serikat.

Bahkan di tengah konflik ini, China bahkan mengembalikan beberapa pesawat Boeing yang sebelumnya dipesan, sebagai bentuk pembalasan.

Trump yang sempat melunak dengan menyatakan tarif akan “turun substansial” namun “tidak menjadi nol”, kini kembali menyuarakan retorika keras.

Melalui media sosialnya, Truth Social, ia menuduh China tidak hanya mengingkari kontrak Boeing, tetapi juga menyalahkannya atas peredaran fentanil—opioid sintetis yang disebutnya membunuh ratusan ribu warga AS.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, turut menambah kebingungan dengan menyatakan bahwa negosiasi belum dimulai, meskipun ia membuka peluang “kesepakatan besar” di masa depan.

Tiongkok juga mengambil langkah strategis dengan mengadakan pertemuan meja bundar bersama lebih dari 80 perusahaan asing untuk membahas dampak tarif AS.

Wakil Menteri Perdagangan Ling Ji mengatakan bahwa perusahaan asing diharapkan dapat “mengubah krisis menjadi peluang”, sebuah sinyal bahwa China tak tinggal diam di tengah tekanan ekonomi global.

Ketegangan ini menunjukkan bahwa resolusi perang dagang tidak akan mudah dicapai, terutama selama kedua pihak masih mempertahankan posisi keras masing-masing.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: BBC, Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X