KLIK SAJA - Pada Sabtu (19/4) lalu, ribuan warga Amerika Serikat turun ke jalan dalam aksi demonstrasi massal yang menandai gelombang penentangan baru terhadap Presiden Donald Trump.
Aksi yang diberi nama "50501" – singkatan dari 50 protes, 50 negara bagian, 1 gerakan – berlangsung serentak di seluruh penjuru negeri, dari luar Gedung Putih hingga pusat-pusat kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Boston.
Unjuk rasa ini juga bertepatan dengan peringatan 250 tahun dimulainya Perang Kemerdekaan Amerika, yang memberikan nuansa simbolis kuat bagi para demonstran.
Banyak dari mereka membawa plakat bertuliskan "No Kings!" atau "Tidak Ada Raja," sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang mereka anggap sebagai kecenderungan otoriter dalam pemerintahan Trump.
Isu Deportasi dan Keprihatinan Warga
Salah satu isu utama yang mencuat dalam protes ini adalah kasus Kilmar Ábrego García, seorang warga yang dideportasi ke El Salvador secara keliru.
Kasus ini memicu kemarahan luas di masyarakat, terutama di kalangan imigran dan aktivis HAM. Banyak demonstran menuntut agar pemerintah segera memulangkannya ke AS.
“Saya di sini karena saya yakin pemerintah bisa menekan El Salvador untuk memulangkannya,” ujar Gihad Elgendy, salah satu peserta aksi di depan Gedung Putih kepada CNN.
Aksi protes ini juga mengkritisi berbagai kebijakan Presiden Trump, termasuk inisiatif Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), yang bertujuan mengurangi pengeluaran negara dengan memangkas lapangan kerja di sektor pemerintahan.
Langkah ini dinilai mengancam kestabilan ekonomi banyak keluarga kelas menengah dan pekerja.
Tren Protes dan Penurunan Popularitas
Protes massal seperti ini semakin sering terjadi di AS, menandai meningkatnya ketegangan politik di masyarakat. Sebelumnya, unjuk rasa "Hands Off" pada awal April juga menarik puluhan ribu warga.
Meski jajak pendapat Gallup menunjukkan 45% pemilih masih menyetujui kinerja Trump pada kuartal pertama masa jabatan keduanya – lebih tinggi dari 41% pada periode serupa di masa jabatan pertama – angka ini tetap jauh di bawah rata-rata historis sebesar 60% untuk presiden-presiden terpilih sejak 1952.
Bahkan, jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan penurunan dukungan terhadap Trump menjadi 43%, dengan tingkat persetujuan terhadap kinerjanya di bidang ekonomi merosot ke 37%.