"Ini menjadi harapan besar bagi Muslim di Jepang, khususnya Hiroshima, agar selalu mempererat solidaritas sesama Muslim di Jepang. Memperkuat citra Islam sebagai agama yang damai, terbuka, dan penuh kasih sayang serta mampu berdampingan dalam tatanan sosial Jepang," ungkapnya.
Keberagaman juga terlihat dari jamaah yang hadir, berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Indonesia, Turki, dan Bangladesh.
Khutbah Idul Fitri pun disampaikan dalam tiga bahasa: Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang, menunjukkan inklusivitas dan semangat persatuan.
Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah pemeluk Islam di Jepang mengalami peningkatan signifikan, baik melalui imigran maupun warga lokal yang memeluk Islam (muallaf).
Komunitas Muslim di Jepang terus berkembang, dan peristiwa seperti shalat Id di lapangan terbuka ini menjadi bukti bahwa pemerintah setempat mulai memberikan ruang lebih luas bagi praktik keagamaan.
Dengan izin shalat Id di Hiroshima, diharapkan kota-kota lain di Jepang juga dapat mengikuti jejak serupa, memberikan kebebasan beribadah yang lebih luas bagi umat Muslim.
Hal ini bukan sekadar pencapaian bagi komunitas Islam, tetapi juga langkah maju bagi Jepang dalam membangun masyarakat multikultural yang harmonis.***