Uni Eropa juga menyatakan penyesalannya atas gagalnya gencatan senjata ini. Koordinator bantuan darurat PBB, Tom Fletcher, menyatakan bahwa "keuntungan sederhana" yang dicapai selama gencatan senjata telah hancur.
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah setelah Israel menghentikan pengiriman bantuan selama lebih dari dua minggu.
Warga Gaza yang sudah hidup dalam kondisi sulit akibat blokade yang berlangsung bertahun-tahun kini harus menghadapi serangan baru yang mematikan.
Ramadan Kelam di Tanah Para Nabi
Serangan ini terjadi di bulan Ramadan, bulan suci umat Islam yang seharusnya diisi dengan kedamaian dan ibadah.
Namun, bagi warga Gaza, Ramadan kali ini justru diwarnai dengan duka dan kepedihan.
Tanah para nabi yang seharusnya menjadi tempat suci dan damai, kini kembali menjadi saksi bisu pertumpahan darah.
Konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun terus memakan korban jiwa, terutama dari pihak warga sipil Palestina.
Serangan terbaru ini kembali mengingatkan dunia akan kompleksitas dan urgensi penyelesaian konflik yang adil dan berkelanjutan.
Tanpa upaya serius dari komunitas internasional untuk mendorong perdamaian, siklus kekerasan ini mungkin akan terus berulang, meninggalkan luka yang semakin dalam di hati rakyat Palestina.***