KLIK SAJA - Honduras mengancam akan mengusir pasukan Amerika Serikat, sebagai balasan terhadap rencana Presiden Terpilih, Donald Trump untuk melakukan deportasi massal terhadap pengungsi dan pencari suaka yang memasuki AS dari Amerika Tengah.
Rencana Trump dapat memengaruhi ratusan ribu orang dari Honduras, negara yang menampung pangkalan militer AS yang signifikan.
Dalam pesan Tahun Barunya, Presiden Honduras Xiomara Castro mengancam akan mempertimbangkan kembali kerja sama militer negara itu dengan AS jika Presiden terpilih Donald Trump menindaklanjuti deportasi massal terhadap imigran tidak berdokumen.
Baca Juga: Pasar Pakaian Bekas Terbesar di Afrika Terbakar Habis, Puluhan Ribu UMKM Ghana Lumpuh
Castro menyatakan bahwa fasilitas militer AS di Honduras, khususnya Pangkalan Udara Soto Cano, akan "kehilangan semua alasan untuk tetap eksis" jika deportasi ini benar-benar terjadi.
Namun, ia juga menggunakan kesempatan itu untuk mengkritik kehadiran militer AS yang telah berlangsung lama di wilayah Honduras secara lebih luas.
Kehadiran militer AS di Honduras, meskipun difokuskan pada Pangkalan Udara Soto Cano, merupakan bagian dari operasi yang lebih luas di Amerika Tengah.
Soto Cano, yang mulai beroperasi pada tahun 1980-an untuk memerangi ancaman komunis di wilayah tersebut, menampung lebih dari 1.000 personel militer dan sipil AS.
Tempat ini juga merupakan salah satu dari sedikit lokasi yang mampu mendaratkan pesawat besar antara AS dan Kolombia, selain Guantanamo.
Pangkalan tersebut berfungsi sebagai titik peluncuran utama untuk pengerahan cepat pasukan AS di kawasan tersebut, termasuk untuk memberikan bantuan bencana dan mengelola bantuan, serta untuk operasi antinarkotika.
Para ahli mengatakan ancaman dari Honduras menandai momen penting dalam geopolitik Amerika Tengah.
Warga Honduras memainkan peran penting dalam ekonomi AS, khususnya di sektor padat karya.
Namun, dinamika yang sama itu membuat Honduras sulit untuk tetap diam menghadapi ancaman deportasi massal.
Wakil Menteri Luar Negeri negara itu Tony Garcia mengatakan sekitar 250.000 warga Honduras dapat diusir dari AS pada tahun 2025, jumlah yang tidak dapat diterima negara Amerika Tengah itu secara tiba-tiba.