Blinken berujar bahwa Washington telah melakukan kontak langsung dengan HTS, khususnya mengenai nasib jurnalis Amerika yang telah lama hilang, Austin Tice.
Tidak ada satu pun perwakilan dari Suriah yang hadir dalam perundingan di Yordania.
Para menteri luar negeri dari delapan negara Arab yang hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan bahwa mereka ingin memastikan bahwa Suriah bersatu dan tidak terpecah belah karena perbedaan sektarian.
Diplomat negara lain yang juga absen adalah dua negara yang memberikan dukungan finansial kepada Assad sehingga dia bisa bertahan berkuasa begitu lama, Iran dan Rusia.
Bayangan semua kekuatan luar yang bertempur memperebutkan Suriah sekian lama sangat membebani masa depan negara itu.
Entitas politik yang baru muncul di Suriah akan membutuhkan kohesi tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri, jika ada harapan nyata bagi rakyat Suriah untuk membangun rasa kebebasan yang memabukkan yang telah mereka alami dalam seminggu terakhir.
Pemberontak Suriah mengakhiri pemerintahan Bashar al-Assad selama 24 tahun, dengan pasukan oposisi merebut ibu kota dan memaksa presiden melarikan diri ke Rusia pada tanggal 8 Desember.
Penggulingan itu menyusul perang saudara selama 13 tahun, yang dimulai setelah Assad menghancurkan protes pro-demokrasi.
Pertempuran itu menewaskan lebih dari setengah juta orang, membuat jutaan orang lainnya mengungsi, dan melibatkan kekuatan internasional dan proksi mereka.
Pemimpin pemberontak HTS Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya menggunakan nama Abu Mohammed al-Jolani , telah menunjuk Mohammed al-Bashir sebagai perdana menteri sementara Suriah.
Kini, dunia tengah menyaksikan bagaimana lanskap politik Suriah terbentuk setelah berakhirnya kekuasaan keluarga Assad selama setengah abad.***