KLIK SAJA - Badan bantuan utama PBB di Gaza berujar Israel telah gagal memenuhi tenggat waktu AS untuk meningkatkan bantuan ke wilayah itu atau menghadapi risiko pengurangan bantuan militer Amerika.
Pada bulan lalu, menteri luar negeri AS memberi Israel ultimatum 30 hari untuk memastikan lebih banyak truk bantuan mencapai Gaza setiap hari dan batas waktu berakhir pada hari Selasa (12/11/24)
PBB melaporkan jumlah bantuan yang masuk ke Gaza berada pada level terendah dalam setahun.
PBB baru-baru ini memperingatkan bahwa ada kemungkinan besar akan terjadi kelaparan di Gaza utara, karena hampir tidak ada bantuan yang masuk dalam bulan lalu.
Baca Juga: Mohammed bin Salman: Kutuk Tindakan Genosida Israel di Gaza
Di sisi lain, Israel mengatakan telah secara substansial meningkatkan jumlah bantuan yang masuk ke Gaza, dan menuduh badan-badan bantuan gagal mendistribusikannya secara memadai.
Dalam suratnya pada tanggal 13 Oktober 2024, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan Israel perlu mengizinkan minimal 350 truk per hari masuk ke Gaza, setiap hari, paling lambat tanggal 12 November.
Namun kenyataanna, Louise Wateridge, Koordinator Darurat Senior di badan PBB untuk pengungsi Palestina (Unrwa), dengan tegas mengatakan tidak ada bantuan yang masuk.
Cogat, badan militer Israel yang bertanggung jawab atas urusan kemanusiaan di Jalur Gaza – mengumumkan pada Selasa pagi (12/11/24) bahwa mereka telah membuka penyeberangan baru, Kissufim, ke arah selatan.
Baca Juga: Imbas Serangan Militer Israel, Anak-Anak Lebanon Alami Trauma Fisik dan Emosional
Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Ocha) mengatakan, selama sebulan terakhir, rata-rata jumlah truk yang memasuki wilayah itu hanya sekitar 40 truk per hari.
Israel membantah angka Ocha dan menyalahkan PBB karena gagal memberikan bantuan.
Dilaporkan ratusan palet bantuan sedang menunggu untuk diambil oleh badan-badan bantuan di sisi perbatasan Gaza dan mengatakan beberapa truk bantuan sedang dijarah oleh orang-orang bersenjata.
Kondisi truk bantuan kemanusiaan yang sulit masuk ke daerah kantung pengungsi korban perang Gaza, tentunya menambah penderitaan warga Palestina.