KLIK SAJA - Israel bersumpah untuk melumpuhkan Hizbullah, yang mulai menembaki Israel utara setelah serangan Hamas pada 7 Oktober memicu perang di Gaza.
Israel mengatakan bahwa serangan terhadap Lebanon Selatan bertujuan mengenai sasaran Hizbullah.
Namun faktanya dalam perang yang meningkat sejak September, serangan udara Israel semakin banyak mengenai daerah permukiman di sekitar Lebanon.
Israel menuduh kelompok militan Lebanon menyembunyikan kemampuan dan pejuangnya di antara warga sipil dan anak-anak terjebak di tengah-tengahnya.
Baca Juga: Israel Kembali Gempur Lebanon dan Gaza Utara, Puluhan Tewas Didominasi Anak-Anak
Dengan semakin banyaknya serangan terhadap rumah-rumah dan di daerah pemukiman, para dokter melihat semakin banyak anak-anak yang terkena dampak kekerasan.
Lebih dari 100 anak telah terbunuh di Lebanon dalam enam minggu terakhir dan ratusan lainnya terluka.
Kemudian dari 14.000 orang yang terluka sejak tahun lalu, sekitar 10% adalah anak-anak.
Banyak yang mengalami luka-luka pada anggota tubuh, tubuh yang terbakar, dan keluarga yang terluka akibat anaknya mengalami cacar seumur hidup.
Dilansir AP News, Ghassan Abu Sittah, seorang dokter bedah Inggris-Palestina ternama berujar bahwa masalah yang dihadapi anak-anak Lebanon korban perang Israel sangatlah berat.
"Hal ini meninggalkan kita dengan generasi anak-anak yang terluka secara fisik, anak-anak yang terluka secara psikologis dan emosional." ujarnya.
Baca Juga: Puluhan Ribu Warga Gaza Mengalami Amputasi Cacat Tubuh Akibat Agresi Israel
Di Pusat Medis Universitas Amerika di Beirut, yang menerima sejumlah kasus korban perang, Nahle mengatakan ia mengoperasi lima anak dalam lima minggu terakhir, meningkat dari sebelumnya yang tidak ada kasu, sebagian besar dirujuk dari Lebanon selatan dan timur.
Dilaporkan AP News, beberapa mil jauhnya, di Rumah Sakit Geitaoui, Lebanon, salah satu pusat perawatan luka bakar terbesar di negara itu meningkatkan kapasitasnya hampir 180% sejak September sehingga dapat menampung lebih banyak korban perang, kata direktur medis Naji Abirached.