KLIK SAJA – Bagi sobat Klik Saja mungkin sering melihat video-video penjual makanan streetfood di negeri ‘Vrindavan’ alias India yang identik dengan kesan jorok dan tidak higienis.
Memang makanan streetfood ala Vrindavan tampak sangat lezat, karena terdiri bumbu kaya rempah khas India, namun seringkali melihat tayangan video yang menunjukkan proses pembuatannya sangat tidak higienis, membuat kita yang melihatnya justru menjadi tak berselera.
Tak jarang dalam tayangan video tersebut, sang pembuat makanan jarang menggunakan alat bantu, tetapi memakai tangan yang terlihat tak higienis, serta tempat makanannya tampak jorok.
Baca Juga: Penyelamatan Seorang Anak Perempuan oleh Sekawanan Monyet di Baghpat, India
Hal ini lama kelamaan ternyata mendapat perhatian dari pemerintah India, setelah menemukan beberapa video yang proses pembuatan makanannya dengan dicemari air ludah, urin hingga kotoran.
Dilansir dari BBC, pada bulan ini, dua negara bagian yang diperintah oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India mengumumkan rencana untuk mengenakan denda besar dan hukuman penjara bagi mereka yang mencemari makanan dengan ludah, urin, dan kotoran.
Negara bagian utara Uttarakhand akan mendenda pelanggar hingga 100.000 rupee ($1.190; £920), sementara negara bagian tetangga Uttar Pradesh akan memperkenalkan undang-undang yang ketat untuk mengatasi masalah tersebut.
Sementara video-video tersebut memicu kemarahan di kalangan pengguna sosial media, dengan banyak yang menyatakan kekhawatiran tentang keamanan pangan di negara-negara bagian tersebut.
Para pejabat mengatakan undang-undang yang ketat diperlukan dan ditujukan untuk mencegah orang melakukan praktik yang tidak higienis terkait makanan.
Namun para pemimpin oposisi dan pakar hukum mempertanyakan kemanjuran undang-undang ini dan menuduh bahwa undang-undang tersebut juga dapat disalahgunakan untuk menjelekkan komunitas tertentu.
Baca Juga: Asal Usul Bakso Makanan Khas Indonesia yang Ternyata dari Negara Lain
Karena dalam beberapa kasus, video-video proses pembuatan makanan yang jorok tersebut, ternyata digunakan untuk saling memfitnah antara kelompok Muslim dan kelompok Hindu.
Surat kabar Indian Express mengkritik peraturan daerah yang diusulkan oleh negara bagian Uttar Pradesh, dengan mengatakan bahwa peraturan tersebut "berfungsi sebagai sinyalemen komunal atau sektarian yang memangsa gagasan mayoritas tentang kemurnian dan polusi serta menargetkan kelompok minoritas yang memangsa".
Makanan dan kebiasaan makan merupakan topik yang sensitif di India yang memiliki keragaman budaya karena keduanya sangat terkait erat dengan agama dan sistem kasta hierarkis di negara tersebut.