wisata

Menelusuri Sejarah Pasar Yosonegoro di Tepi Danau Limboto, Jejak Jawa Tondano di Bumi Gorontalo

Kamis, 18 Juni 2026 | 08:11 WIB
Tampak depan Pasar Yosonegoro Limboto (rri)

Komunitas Jaton berkembang menjadi kelompok masyarakat yang unik. Mereka berhasil mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa dan tradisi Islam yang diwariskan leluhur, sembari berbaur dengan budaya lokal Sulawesi Utara.

Perjalanan sejarah tidak berhenti di Tondano. Sebagian keturunan Jawa Tondano kemudian berpindah dan menetap di wilayah Gorontalo, khususnya di sekitar Danau Limboto.

Di tempat baru inilah mereka membangun kehidupan, membuka lahan permukiman, dan mengembangkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu warisan yang lahir dari perjalanan tersebut adalah Pasar Yosonegoro. Pasar ini tumbuh menjadi pusat perdagangan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dari beragam latar belakang etnis dan budaya.

Di dalam kawasan pasar, interaksi antara masyarakat Gorontalo, Jawa Tondano, Minahasa, Bugis, dan berbagai etnis lainnya berlangsung secara alami.

Perbedaan identitas tidak menjadi penghalang, melainkan menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan sosial masyarakat setempat.

Baca Juga: Serunya Menyapa Hiu Paus di Desa Wisata Botubarani Gorontalo, Pesona Bahari Teluk Tomini

Menariknya, sebagian besar pedagang, ternyata masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar.

Setiap hari, pasar ini menjadi ruang perjumpaan tempat orang-orang saling bertukar barang, cerita, dan pengalaman hidup. Di sinilah nilai gotong royong dan toleransi tumbuh secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Tugu Ketupat, Simbol Tradisi Kerukunan

Tidak jauh dari Pasar Yosonegoro berdiri sebuah monumen yang langsung menarik perhatian pengunjung, yakni Tugu Ketupat Yosonegoro.

Tugu ini bukan sekadar penanda kawasan, melainkan simbol identitas budaya masyarakat Jawa Tondano yang masih terjaga hingga kini.

Ketupat memiliki makna istimewa bagi komunitas Jaton. Mereka masih mempertahankan tradisi Bakdo Ketupat atau Lebaran Ketupat, sebuah perayaan yang dilaksanakan satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri.

Tradisi tersebut merupakan warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun sejak masa leluhur mereka di Jawa.

Pada perayaan itu, keluarga-keluarga berkumpul, menyajikan ketupat dan berbagai hidangan khas, serta mempererat silaturahmi antarwarga.

Halaman:

Tags

Terkini