wisata

Menelusuri Sejarah Pasar Yosonegoro di Tepi Danau Limboto, Jejak Jawa Tondano di Bumi Gorontalo

Kamis, 18 Juni 2026 | 08:11 WIB
Tampak depan Pasar Yosonegoro Limboto (rri)

KLIK SAJA - Di tepian Danau Limboto, tepatnya di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, terdapat sebuah kawasan yang tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menyimpan kisah sejarah panjang tentang perjumpaan budaya, perjuangan, dan kerukunan.

Kawasan itu adalah Pasar Yosonegoro dan Tugu Ketupat Yosonegoro, dua ikon yang merepresentasikan kuatnya nilai kebersamaan di tengah keberagaman etnis yang hidup berdampingan di Gorontalo.

Menilik dari namanya, pasar ini tentu tidak identik dengan nama khas Gorontalo atau Sulawesi, namun justru seperti layaknya nama pasar di pulau Jawa.

Dan memang, Pasar Yosonegoro secara kesejarahan sangat lekat dengan para pendatang dari pulau Jawa di Gorontalo.

Sekilas, Pasar Yosonegoro tampak seperti pasar tradisional pada umumnya. Deretan lapak pedagang menjajakan berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari hasil pertanian, ikan segar, rempah-rempah, hingga aneka kuliner khas daerah.

Namun di balik aktivitas jual beli yang berlangsung setiap hari, pasar ini menyimpan cerita yang jauh lebih dalam tentang identitas dan sejarah sebuah komunitas.

Dari Perang Jawa Menuju Tondano

Jejak sejarah Pasar Yosonegoro tidak dapat dipisahkan dari kisah perjuangan Kyai Modjo, salah satu tokoh penting dalam Perang Jawa yang berlangsung pada 1825–1830.

Kyai Modjo merupakan penasihat agama sekaligus panglima perang yang mendampingi Pangeran Diponegoro dalam melawan kolonial Belanda.

Baca Juga: Wisata Taman Tangga 2000 Gorontalo, Spot Pemandangan Terbaik di Kota Serambi Madinah

Setelah ditangkap pada tahun 1828, Kyai Modjo bersama puluhan pengikutnya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Tondano, Sulawesi Utara.

Mereka tiba di Tondano pada tahun 1829 dan menjalani kehidupan baru sebagai tahanan politik jauh dari tanah kelahiran mereka di Jawa.

Seiring waktu, para pengikut Kyai Modjo yang sebagian besar berasal dari Jawa membangun kehidupan bersama masyarakat setempat.

Mereka menikah dengan perempuan Minahasa dan melahirkan generasi baru yang kemudian dikenal sebagai masyarakat Jawa Tondano atau Jaton.

Halaman:

Tags

Terkini