wisata

Mengenal Masjid Agung Djenne di Mali, Bangunan Bata Lumpur Terbesar di Dunia

Selasa, 3 Februari 2026 | 22:13 WIB
Masjid Agung Djenne dipadati jemaah (qiraat african)

KLIK SAJA – Jika masjid agung kuno biasanya dibangun dengan batu pualam atau marmer berkualitas, maka justru di Afrika, ada tempat ibadah umat Islam yang dikonstruksi menggunakan bata lumpur, Namanya Masjid Agung Djenne.

Masjid Agung Djenné pertama kali dibangun pada abad ke-13 Masehi. Bangunan ini kemudian direkonstruksi pada tahun 1906 dan hingga kini tetap menjadi bangunan bata lumpur terbesar di dunia.

Masjid ini terletak di kota Djenné, Mali, tidak jauh dari Sungai Bani. Masjid Agung Djenné dianggap sebagai contoh paling unggul dari arsitektur Sudano-Sahelian dan selama berabad-abad berfungsi sebagai pusat keilmuan Islam, sebelum akhirnya sempat mengalami keruntuhan.

Kawasan Kota Tua Djenné, yang mencakup Masjid Agung serta berbagai bangunan lumpur dan situs arkeologi lainnya, ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1988.

Sejak tahun 1961, Masjid Agung Djenné juga menjadi bagian dari lambang nasional Mali, menegaskan kedudukannya sebagai simbol identitas dan kebanggaan bangsa.

Masjid Agung Djenné terletak di pusat kota, berdampingan langsung dengan pasar utama.

Bangunan ini berdiri di atas sebuah panggung tanah setinggi sekitar tiga meter dengan ukuran 75 x 75 meter.

Panggung ini berfungsi sebagai perlindungan dari banjir Sungai Bani yang kerap meluap. Hujan memang dapat merusak struktur masjid, biasanya berupa retakan kecil yang secara rutin diperbaiki.

Baca Juga: Mengupas Sejarah Masjid Asal Penampaan di Gayo Lues, Dibangun Sejaman Majapahit

Namun, hujan yang sangat lebat dapat menimbulkan kerusakan serius, seperti yang terjadi pada tahun 2009 ketika bagian atas menara selatan di fasad timur runtuh.

Perbaikan kemudian didanai oleh Aga Khan Trust for Culture pada tahun 2010, dan hingga saat ini masjid telah sepenuhnya direstorasi.

Perawatan Masjid Agung Djenné dilakukan melalui sebuah tradisi tahunan yang dikenal sebagai La Fête de Crépissage.

Dalam festival ini, seluruh anggota komunitas terlibat langsung dalam pelapisan ulang dinding masjid dengan lumpur.

Plester lumpur dicampur di lubang-lubang besar dan dibiarkan selama beberapa hari hingga matang dan siap digunakan.

Halaman:

Tags

Terkini