Mengenal Masjid Agung Djenne di Mali, Bangunan Bata Lumpur Terbesar di Dunia

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 3 Februari 2026 | 22:13 WIB
Masjid Agung Djenne dipadati jemaah (qiraat african)
Masjid Agung Djenne dipadati jemaah (qiraat african)

Para pemuda dan anak laki-laki memanjat toron—batang-batang kayu palem rodier yang menonjol dari dinding masjid dan berfungsi sebagai perancah alami—sementara para perempuan dan anak perempuan membawa air untuk membantu proses pelapisan.

Para tukang bangunan senior mengawasi pekerjaan tersebut dan memeriksa hasil akhirnya agar permukaan dinding tetap rata dan halus.

Festival ini dimulai dengan perlombaan membawa mangkuk lumpur pertama ke masjid dan diakhiri dengan kegiatan membersihkan diri menggunakan sisa air yang ada.

Masjid Agung Djenné dibangun sepenuhnya dari lumpur, kecuali toron. Lumpur digunakan sebagai bahan bata, perekat, dan plester.

Bata-bata tersebut dibuat dari banco, yaitu campuran sekam biji-bijian dan tanah cokelat khas Afrika Barat yang menjadi bahan utama arsitektur tanah di kawasan ini.

Dinding kiblat masjid menghadap ke timur, ke arah alun-alun utama Djenné dan menuju Mekkah. Dinding ini memiliki ketebalan sekitar satu meter dan dihiasi oleh tiga menara utama, dengan menara-menara kecil di kedua ujungnya.

 Struktur dinding diperkuat oleh delapan belas pilaster yang masing-masing diakhiri dengan puncak berbentuk kerucut.

Ruang salat terletak tepat di belakang dinding kiblat dan menempati sekitar setengah dari keseluruhan bagian dalam masjid.

Separuh lainnya merupakan halaman terbuka yang dikelilingi galeri di tiga sisi dengan lengkungan runcing, salah satunya dikhususkan bagi jamaah perempuan.

Atap ruang salat disusun dari balok-balok palem rodier yang dipasang melintang dan dilapisi lumpur, serta ditopang oleh dinding-dinding bagian dalam.

Yang membuat Masjid Agung Djenné begitu menarik bukan hanya ukurannya yang monumental atau keindahan arsitekturnya, melainkan juga hubungan erat antara bangunan, alam, dan masyarakatnya.

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan, di mana keberlanjutan bangunan bergantung pada partisipasi kolektif warga.

Perpaduan antara teknik konstruksi tradisional, fungsi religius, dan ritual sosial menjadikan Masjid Agung Djenné sebagai salah satu warisan arsitektur Islam paling unik dan hidup di dunia.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X