Tradisi Berburu Ikan Paus Lamalera di Nusa Tenggara Timur: Simbol Keberanian, Kebersamaan dan Penghormatan Alam

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Jumat, 3 Juli 2026 | 21:32 WIB
Tradisi berburu ikan paus di Lamalera (Paul Davison Photography)
Tradisi berburu ikan paus di Lamalera (Paul Davison Photography)

Perburuan dilakukan di perairan selatan Pulau Lembata. Ketika seekor paus melintas, lamafa berdiri di haluan paledang sebelum melompat dan melemparkan tempuling ke arah tubuh paus.

Keahlian tersebut membutuhkan keberanian, ketepatan, sekaligus kerja sama seluruh awak perahu.

Di berbagai belahan dunia, perburuan paus kerap menjadi isu yang kontroversial, terlebih karena paus sperma masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable) menurut Daftar Merah IUCN.

Namun, tradisi Lamalera memiliki karakter yang berbeda dengan perburuan paus komersial.

Baca Juga: Tangguhnya Kuda Cendana Asal Nusa Tenggara Timur, Simbol Kehormatan Masyarakat Pulau Sumba

Mengutip National Geographic, Komisi Perburuan Paus Internasional (International Whaling Commission/IWC) mengategorikan praktik berburu paus di Lamalera sebagai perburuan tradisional yang masih diperbolehkan karena memenuhi sejumlah persyaratan.

Beberapa di antaranya adalah penggunaan perahu tanpa mesin, pemakaian senjata tradisional, pelaksanaan di wilayah tangkap tertentu, serta mempertimbangkan jenis dan jumlah paus yang boleh diburu.

Prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa tradisi Lamalera dijalankan dengan memperhatikan aspek budaya, sosial, dan keberlanjutan lingkungan.

Bagi masyarakat Lamalera, berburu paus bukanlah aktivitas ekonomi berskala besar.

Perburuan hanya dilakukan pada musim tertentu dengan jumlah tangkapan yang terbatas.

Mereka juga meyakini bahwa laut memiliki waktunya sendiri untuk memberikan rezeki sehingga nelayan tidak memaksakan diri melaut setiap saat.

Nilai spiritual menjadi bagian penting dalam setiap prosesnya. Karena itu, keberhasilan berburu tidak hanya ditentukan oleh keterampilan, tetapi juga oleh keharmonisan manusia dengan alam menurut kepercayaan yang mereka anut.

Hal yang paling menarik dari tradisi Lamalera bukan hanya cara berburu pausnya, melainkan bagaimana hasil tangkapan dibagikan.

Seekor paus yang berhasil ditangkap tidak menjadi milik individu atau kelompok tertentu.

Dagingnya dibagikan kepada seluruh warga desa berdasarkan aturan adat, termasuk kepada janda, anak yatim, para pendayung, pemilik perahu, hingga keluarga-keluarga lain di kampung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X