KLIK SAJA - Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya memikat lewat bentangan padang savana yang luas dan perbukitan eksotis.
Di balik lanskapnya yang memukau, pulau ini menyimpan tradisi yang telah mengakar kuat selama berabad-abad.
Salah satu simbol budaya yang paling melekat dengan kehidupan masyarakat Sumba adalah kuda cendana.
Hingga masyarakat awam selalu mengidentikkan bahwa ke-khas-an utama dari pulau Sumba adalah keberadaan kuda-kudanya di alam liar.
Di hamparan savana, kawanan kuda, kerbau, dan babi kerap terlihat berkeliaran bebas mencari makan.
Bagi masyarakat Sumba, ternak bukan sekadar aset ekonomi, melainkan juga penanda status sosial dan bagian penting dalam kehidupan adat.
Dari berbagai jenis ternak tersebut, kuda menempati posisi yang paling istimewa. Hewan ini tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga simbol kehormatan, spiritualitas, dan identitas budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Serunya Pacuan Kuda Ambal Kebumen, Tradisi Meriah Kala Lebaran Tiba
Sumba dikenal sebagai habitat kuda berpostur kecil dengan tubuh yang padat, berotot, dan proporsional, agak mirip kuda poni Jepang.
Meski ukurannya tidak sebesar kuda ras lain, kuda-kuda ini memiliki daya tahan luar biasa.
Mereka mampu berlari lincah di medan berbatu, perbukitan terjal, hingga padang savana yang gersang di bawah terik matahari.
Ketangguhan inilah yang membuat kuda cendana sangat cocok hidup di bentang alam khas Sumba.
Yang menarik, sebagian besar kuda dipelihara dengan cara dilepasliarkan di padang rumput.
Meski demikian, hewan-hewan tersebut tetap mengenali pemiliknya dan memiliki ikatan batin yang kuat. Kedekatan inilah yang menjadikan kuda tidak hanya dipandang sebagai hewan ternak, tetapi juga bagian dari keluarga.