Selain dalam pernikahan, kuda juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ritual Pasola, tradisi perang adat yang digelar setiap Februari hingga Maret, bertepatan dengan musim tanam.
Dalam ritual tersebut, dua kelompok penunggang kuda saling melempar tombak kayu sebagai bagian dari upacara kepercayaan Marapu.
Bagi masyarakat Sumba, Pasola bukan sekadar atraksi budaya, melainkan ritual sakral yang diyakini membawa kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah.
Di arena Pasola, kuda bukan hanya menjadi tunggangan, tetapi juga rekan seperjuangan para ksatria yang ikut menentukan jalannya ritual.
Dalam kepercayaan Marapu, kuda memiliki makna spiritual yang mendalam. Hewan ini dipercaya menjadi penghubung antara manusia dengan para leluhur, bahkan diyakini sebagai tunggangan terakhir yang mengantarkan seseorang menuju alam baka.
Kepercayaan tersebut membuat kuda selalu hadir dalam berbagai ritual adat, mulai dari pernikahan hingga upacara kematian.
Posisinya begitu istimewa sehingga keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari identitas budaya masyarakat Sumba.
Di tengah perubahan zaman, kuda cendana tetap menjadi ikon Pulau Sumba sekaligus simbol kuat budaya masyarakatnya. Ketangguhan fisiknya berpadu dengan nilai-nilai adat, spiritualitas, dan sejarah panjang yang terus diwariskan lintas generasi.
Bagi masyarakat Sumba, memelihara kuda bukan sekadar menjaga seekor hewan, melainkan merawat warisan budaya yang menjadi bagian dari jati diri mereka.
Karena itulah, hingga kini derap langkah kuda cendana masih menjadi denyut kehidupan di padang-padang savana Sumba.***