Mengenal Tradisi Peta Kapanca Pada Masyarakat Dompu, Prosesi Sakral Jelang Pernikahan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 20 Juni 2026 | 01:13 WIB
Tradisi Peta Kapanca  (sdn 32 bima)
Tradisi Peta Kapanca (sdn 32 bima)

KLIK SAJA - Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Bima dan Dompu di Nusa Tenggara Barat masih menyimpan sebuah tradisi pernikahan yang sarat makna dan nilai budaya.

Tradisi tersebut dikenal dengan nama Peta Kapanca, sebuah prosesi sakral yang menjadi bagian penting dalam rangkaian adat menjelang pernikahan.

Secara etimologis, dalam bahasa daerah Bima dan Dompu, kata "Peta" berarti melumatkan atau menempelkan, sedangkan "Kapanca" berarti daun pacar atau daun inai.

Maka dengan demikian, Peta Kapanca dapat dimaknai sebagai prosesi melumatkan daun pacar pada telapak tangan atau kuku calon pengantin perempuan.

Tradisi ini menjadi simbol bahwa sang calon mempelai wanita akan segera memasuki kehidupan baru sebagai istri dari pria yang telah meminangnya.

Prosesi Peta Kapanca tidak berlangsung begitu saja. Sebelum memasuki acara inti, calon pengantin perempuan terlebih dahulu menjalani serangkaian ritual adat yang penuh makna.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Merisik dalam Perkawinan Adat Melayu: Berpantun dalam Ta’aruf

Rangkaian tersebut diawali dengan Sangongo, yakni mandi uap menggunakan berbagai jenis bunga dan rempah-rempah.

Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk penyucian diri sekaligus persiapan lahir dan batin menjelang pernikahan.

Setelah Sangongo, prosesi dilanjutkan dengan Boho Oi Ndeu atau siraman. Air yang digunakan biasanya telah dicampur dengan bunga-bungaan yang melambangkan kesucian, harapan, dan doa untuk kehidupan rumah tangga yang harmonis.

Tahapan berikutnya adalah Cafi Ra Hambu Maru Kai, yaitu kegiatan membersihkan, menata, dan menghias kamar calon pengantin wanita.

Prosesi ini melambangkan kesiapan sang mempelai dalam menyambut kehidupan barunya setelah menikah.

Peta Kapanca umumnya dilaksanakan pada malam hari, sehari sebelum akad nikah berlangsung.

Calon pengantin perempuan akan mengenakan pakaian adat khas Bima atau Dompu dan duduk di tempat yang telah disiapkan di tengah para tamu undangan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X