Mengenal Bendrong Lesung Asal Banten, Tradisi Leluhur Tumbuk Padi Sambut Hajatan Besar

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:40 WIB
Atraksi Bendrong Lesung (Blogger)
Atraksi Bendrong Lesung (Blogger)

Secara historis, Bendrong Lesung berakar dari tradisi masyarakat agraris. Dahulu, kesenian ini ditampilkan untuk menyambut panen raya sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Setelah melalui masa tanam yang panjang dan penuh perjuangan, masyarakat menumpahkan kegembiraan mereka melalui bunyi-bunyian ritmis yang berasal dari alat-alat pertanian yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Dari sinilah lahir Bendrong Lesung, seni yang dimainkan dengan cara memukulkan alu ke lesung hingga menghasilkan perpaduan suara yang ritmis dan syahdu. Kesenian ini kemudian berkembang luas di berbagai daerah Banten, seperti Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.

Dalam sebuah pertunjukan tradisional, Bendrong Lesung biasanya melibatkan sekitar 20 pemain. Mereka terbagi dalam beberapa peran, yakni penabuh kendang, penari, dan pemain musik pengiring.

Kehadiran para penari membuat pertunjukan semakin hidup, sementara lagu-lagu yang dibawakan umumnya bernuansa jenaka dan gembira, sesuai dengan fungsi kesenian rakyat sebagai sarana hiburan masyarakat.

Keindahan Bendrong Lesung juga tampak dari busana yang dikenakan para pelakunya.

Para penari perempuan biasanya mengenakan kebaya, kain batik, selendang, dan slayer, sementara para pemusik tampil dengan pakaian pangsi hitam yang mencerminkan identitas budaya Banten.

Di beberapa wilayah seperti Gempol Wetan, Cilegon, dan Kabupaten Serang, Bendrong Lesung bahkan memiliki fungsi spiritual.

Kesenian ini dipercaya sebagai media tolak bala yang kerap ditampilkan dalam berbagai ritus daur hidup masyarakat, seperti pernikahan dan selamatan.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Gute Semei di Wulandoni, Ritual Kumpulkan Darah Korban Pembunuhan Demi Perdamaian

Melalui alunan ritme lesung dan alu, masyarakat memanjatkan harapan agar terhindar dari marabahaya serta memperoleh keselamatan dan keberkahan.

Seiring perkembangan zaman, Bendrong Lesung terus bertransformasi. Jika dahulu kesenian ini dimainkan hampir seluruhnya oleh perempuan, kini kaum laki-laki juga turut berpartisipasi dalam berbagai bentuk kreasi baru.

Bendrong Lesung tidak lagi terbatas pada perayaan panen atau ritual adat, tetapi juga hadir dalam berbagai acara seperti pernikahan, peresmian gedung, festival budaya, hingga penyambutan tamu penting.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti pada bentuk lama. Justru dengan beradaptasi,

Bendrong Lesung mampu bertahan dan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Berbagai sanggar seni di Cilegon dan Kabupaten Serang terus mengembangkan koreografi, aransemen musik, dan bentuk pertunjukannya tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X