Perahu Dragon Boat umumnya dibuat dari bahan modern seperti fiberglass dan dirancang mengikuti standar internasional.
Bagian kepala dan ekornya dihias menyerupai naga, memberikan tampilan yang megah sekaligus ikonik. Karena standarnya seragam, perlombaan Dragon Boat dapat digelar secara profesional di berbagai negara.
Sementara itu, Pacu Jalur memiliki ciri yang jauh lebih tradisional dan unik. Perahunya dibuat dari satu batang pohon besar utuh tanpa sambungan. Panjangnya bahkan bisa mencapai 40 meter.
Proses pembuatannya melibatkan banyak orang dan sering diawali dengan ritual adat. Pohon yang dipilih biasanya harus kuat, tetapi tetap ringan agar mudah melaju di sungai. Setelah ditebang, kayu dibentuk dan dihias secara manual oleh para perajin lokal.
Karena itulah, jalur bukan hanya alat perlombaan, melainkan juga karya budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Jumlah kru di kedua perlombaan ini juga sangat berbeda.
Dalam Dragon Boat, satu perahu biasanya diisi 10 hingga 20 pendayung. Di bagian depan terdapat penabuh drum yang menjaga ritme kayuhan, sementara seorang juru kemudi berdiri di belakang untuk mengatur arah perahu.
Baca Juga: Mirip Pacu Jalur, Ada Pacu Kolek di Kepulauan Riau, Tradisi Balap Perahu di Lautan
Di Pacu Jalur, jumlah awak bisa mencapai 60 orang. Sosok paling ikonik adalah “Tukang Onjai” atau “Tukang Tari” yang berdiri di ujung perahu. Ia menari, menghentakkan kaki, sekaligus memberi semangat kepada para pendayung.
Gerakan enerjiknya menjadi daya tarik tersendiri dan kerap viral di media sosial. Selain Tukang Onjai, ada pula juru kemudi dan beberapa awak lain yang bertugas menjaga keseimbangan jalur agar tetap stabil saat melaju deras di sungai.
Dragon Boat umumnya menggunakan sistem perlombaan internasional: siapa tercepat mencapai garis akhir, dialah pemenangnya. Kompetisinya menonjolkan unsur olahraga, disiplin, dan profesionalisme.
Sebaliknya, Pacu Jalur memakai sistem eliminasi. Tim yang kalah langsung tersingkir, sehingga setiap putaran terasa menegangkan.
Namun, kekuatan utama Pacu Jalur bukan hanya pada balapannya. Festival ini menjelma menjadi pesta budaya rakyat yang meriah.
Ribuan warga dan wisatawan memadati tepian Sungai Batang Kuantan untuk menyaksikan perlombaan, bersorak, serta menikmati iringan musik tradisional yang menggema sepanjang sungai.
Pada akhirnya, meski sama-sama mengarungi air dengan semangat kebersamaan, Dragon Boat dan Pacu Jalur membawa identitas budaya yang berbeda.