Menyelami Budaya Minangkabau di Desa Wisata Sungai Batang Tepian Danau Maninjau Nan Elok

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 9 Mei 2026 | 15:52 WIB
Pemandangan Elok Desa Wisata Sungai Batang di tepian Maninjau (pigijo)
Pemandangan Elok Desa Wisata Sungai Batang di tepian Maninjau (pigijo)

Kehidupan masyarakat di tepi Danau Maninjau juga melahirkan tradisi unik seperti Mamukek Lauak atau menjala ikan secara tradisional.

Ada pula tradisi menangkap Ikan Rinyuak, ikan endemik Danau Maninjau yang bertubuh kecil dan transparan.

Penangkapan ikan ini dilakukan menggunakan kain halus berbingkai kayu dan bahkan rutin dilombakan setiap tahun sebagai atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan.

Nuansa religius dan pendidikan budaya juga tetap dijaga melalui program Babaliak Ka Surau, yaitu kegiatan pembinaan agama dan budaya bagi generasi muda.

Seni bela diri tradisional Minangkabau, Silek, juga masih sering dipentaskan dalam berbagai acara adat.

Surga Kuliner Khas Danau Maninjau

Berwisata ke Sungai Batang belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Salah satu yang paling terkenal adalah Dendeng Rinyuak dan Peyek Rinyuak, olahan ikan endemik Danau Maninjau yang memiliki cita rasa gurih dan khas.

Selain itu, ada pula Randang Paku, rendang berbahan dasar pucuk pakis yang tumbuh subur di sekitar danau.

Sajian lain yang tak kalah unik adalah Urai Pensi Balado, olahan kerang endemik Danau Maninjau dengan bumbu balado yang menggugah selera.

Akses, Jam Operasional, dan Tiket Masuk

Desa Wisata Sungai Batang cukup mudah dijangkau. Dari pusat Maninjau, perjalanan hanya memakan waktu sekitar beberapa menit. Pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewa karena transportasi umum menuju desa belum selalu tersedia secara reguler.

Baca Juga: Kisah Candi Sambisari Sleman Terkubur Ratusan Tahun oleh Abu Vulkanik Merapi

Perjalanan menuju kawasan ini juga menjadi pengalaman tersendiri, terutama jika melewati jalur ikonik Kelok 44 yang menawarkan panorama luar biasa. Namun, pengendara tetap perlu berhati-hati karena jalurnya berkelok dan menanjak.

Sebagai sebuah nagari wisata, Sungai Batang terbuka selama 24 jam.

Meski demikian, untuk mengunjungi situs budaya, rumah adat, atau mengikuti kegiatan tradisi tertentu, wisatawan sebaiknya melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada pengelola desa wisata atau pemandu lokal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X