Mengenal Tradisi Sayyang Pattuddu Suku Mandar, Seremoni Unik Khatam Al Quran Berpadu Atraksi Kuda Menari

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 23:12 WIB
Atraksi Sayyang Pattudu Suku Mandar (blogger)
Atraksi Sayyang Pattudu Suku Mandar (blogger)

Musim Sayyang Pattudu biasanya dimulai setelah tanggal 12 Rabiul Awal, masih dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi yang memperingati kelahiran Nabi Muhammad.

Selain menjadi bentuk perayaan religius, kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi yang mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat solidaritas dalam masyarakat.

Dalam budaya Mandar, kuda memiliki makna simbolis yang penting. Hewan ini melambangkan kekuatan dan keindahan.

Sementara itu, tari-tarian, nyanyian, dan syair yang mengiringi arak-arakan mencerminkan kekayaan budaya Mandar yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Perpaduan antara adat leluhur dan nilai-nilai Islam dalam tradisi ini menciptakan suasana perayaan yang penuh makna simbolik.

Salah satu ciri khas Sayyang Pattudu terletak pada para penunggangnya. Biasanya yang menunggangi kuda adalah anak-anak atau remaja yang baru saja khatam Al-Qur’an.

Di bagian depan kuda, terdapat seorang perempuan dewasa yang disebut pissawe. Ia mengenakan pakaian adat Mandar yang disebut pasangang mamea, yaitu busana adat berwarna merah yang mencolok dan elegan.

Sementara itu, anak-anak yang diarak sering mengenakan padarawa, yaitu pakaian yang biasanya dipakai oleh seseorang yang baru pulang dari ibadah haji.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Pongot Suku Gayo, Ketika Seni Menangis Berpadu Prosa Nan Puitis

Ada pula yang mengenakan baju pengantin adat Mandar, baju pokko, serta berbagai variasi busana lain yang penuh warna dan terlihat mencolok.

Sepanjang arak-arakan, irama rebana yang dikenal dengan sebutan rawana dimainkan oleh para parrawana.

Mereka juga melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad, menambah nuansa religius dalam perayaan tersebut.

Selain itu, pantun tradisional Mandar yang disebut kalinda’da turut memperkaya suasana. Syair-syair tersebut biasanya berisi doa, nasihat, maupun pujian kepada anak yang telah menamatkan Al-Qur’an.

Perpaduan unsur seni lokal dan nilai-nilai Islam inilah yang membuat Sayyang Pattudu menjadi tradisi yang sangat khas.

Setiap kali Sayyang Pattudu digelar, suasana kampung menjadi sangat ramai dan penuh antusiasme. Masyarakat berkumpul untuk menyaksikan arak-arakan, saling berinteraksi, dan merayakan keberhasilan anak-anak mereka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X