Mengenal Tradisi Sayyang Pattuddu Suku Mandar, Seremoni Unik Khatam Al Quran Berpadu Atraksi Kuda Menari

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 23:12 WIB
Atraksi Sayyang Pattudu Suku Mandar (blogger)
Atraksi Sayyang Pattudu Suku Mandar (blogger)

KLIK SAJA - Suku Mandar di Sulawesi Barat dikenal memiliki beragam budaya unik yang sarat dengan nilai religi dan tradisi.

Banyak di antaranya lahir dari perpaduan antara adat leluhur dan ajaran Islam yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu tradisi yang paling menarik adalah Sayyang Pattuddu, sebuah perayaan yang dilakukan ketika seorang anak berhasil khatam Al-Qur’an.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk syukur sekaligus kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat atas pencapaian tersebut.

Dalam perayaan ini, suasana kampung biasanya dipenuhi irama tabuhan rebana yang bertalu-talu. Di tengah keramaian itu, tampak arak-arakan kuda yang dihias dengan aksesoris berwarna-warni khas Mandar.

Kuda-kuda yang telah terlatih menari akan bergerak lincah—menjingkrakkan kaki, menganggukkan kepala, bahkan sesekali mengangkat setengah badannya ke udara. Atraksi ini menciptakan tontonan budaya yang meriah sekaligus memukau.

Di atas punggung kuda itulah duduk anak-anak yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Sepanjang perjalanan arak-arakan, lantunan kalinda’da, yaitu puisi tradisional Mandar, dibacakan oleh seorang pakkalindada.

Isi puisi tersebut biasanya berupa pujian, doa, serta ungkapan kebanggaan atas keberhasilan sang anak.

Perpaduan antara musik tradisional, syair puisi, dan atraksi kuda menjadikan tradisi ini sebagai salah satu ekspresi kearifan lokal yang khas dari masyarakat Mandar.

Bagi masyarakat Mandar, Sayyang Pattudu bukan hanya sekadar hiburan atau perayaan. Tradisi ini menjadi bentuk penghargaan bagi anak-anak yang telah berhasil menamatkan bacaan Al-Qur’an.

Melalui perayaan tersebut, masyarakat ingin memberikan motivasi kepada anak-anak lainnya agar tetap semangat belajar membaca dan memahami Al-Qur’an.

Tradisi ini juga menjadi simbol kebanggaan keluarga, sekaligus wujud syukur kepada Tuhan atas keberhasilan anak mereka dalam menuntaskan pendidikan agama.

Tradisi Sayyang Pattuddu diyakini telah muncul sejak awal tahun 1600-an, tepatnya pada masa awal penyebaran Islam di tanah Mandar.

Pada masa itu, tradisi ini digunakan sebagai salah satu cara untuk menyemarakkan syiar Islam sekaligus memperkenalkan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X