Mengupas Kesenian Debus, Warisan Budaya Keteguhan dan Kekuatan Rakyat Banten

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 9 November 2025 | 20:12 WIB
ilustrasi permainan kesenia Debus Banten (berbagai sumber)
ilustrasi permainan kesenia Debus Banten (berbagai sumber)

Alat ini memiliki bentuk menyerupai pahat besar dan menjadi ikon penting dalam setiap atraksi.

Pemimpin pertunjukan, yang disebut syeh, berperan penting dalam memimpin jalannya permainan serta melindungi para pemain secara spiritual.

Ia dibantu oleh para pezikir, pemain, dan penabuh musik yang menciptakan suasana magis melalui iringan alat musik tradisional seperti gendang, rebana, suling, dan kecrek.

Pertunjukan debus biasanya diawali dengan lantunan lagu tradisional dan pembacaan dzikir sebagai bentuk rasa syukur serta doa keselamatan.

Setelah itu, dua pemain menampilkan gerakan pencak silat sebagai pemanasan sebelum masuk ke pertunjukan utama. Ketika atraksi dimulai, suasana menjadi tegang dan penuh takjub.

Baca Juga: Memahami Filosofi Kesenian Reog Ponorogo yang Penuh Makna Kesetiaan Akan Kebenaran

Penonton menyaksikan berbagai aksi berisiko tinggi yang menunjukkan kemampuan luar biasa para pemain dalam mengendalikan tubuh dan batin mereka.

Meski terlihat mustahil, setiap aksi dilakukan dengan ketenangan dan keyakinan penuh, mencerminkan kedalaman spiritual yang menyatu dengan kekuatan fisik.

Lebih dari sekadar hiburan, debus menyimpan nilai-nilai luhur yang mencerminkan kehidupan masyarakat Banten.

Nilai keagamaan menjadi unsur utama, terlihat dari doa dan dzikir yang selalu mengiringi setiap pertunjukan.

Doa-doa tersebut diyakini sebagai sumber kekuatan dan perlindungan dari Allah SWT. Selain itu, kesenian ini juga mengandung nilai kerja keras dan disiplin, karena setiap pemain harus menjalani latihan berat serta mematuhi berbagai pantangan sebelum tampil.

Semangat kerja sama pun sangat terasa, sebab pertunjukan debus hanya bisa berjalan dengan sinergi antara syeh, pemain, pezikir, dan penabuh musik.

Seiring perkembangan zaman, fungsi debus mengalami pergeseran.

Jika dahulu digunakan sebagai media dakwah dan perlawanan, kini debus lebih dikenal sebagai seni pertunjukan rakyat yang menghibur sekaligus melestarikan warisan budaya.

Meskipun demikian, nilai-nilai spiritual dan semangat perjuangan di dalamnya tetap terjaga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X