KLIK SAJA – Siapa yang tak ngeri melihat pertunjukkan seseorang menusukkan benda tajam ke tubuhnya tanpa merasakan sakit dan luka.
Ini nyata dan ada di Indonesia, namanya ‘Debus Banten’.
Debus adalah seni pertunjukan tradisional khas Banten yang menampilkan kekuatan tubuh manusia dalam menghadapi berbagai benda tajam dan keras.
Dalam setiap pementasannya, para pemain menunjukkan atraksi menegangkan seperti menusukkan besi runcing ke tubuh, memukul diri dengan gada, memecahkan kelapa dengan kepala, hingga berjalan di atas bara api.
Semua ini dilakukan bukan semata untuk menunjukkan keberanian fisik, tetapi juga kekuatan spiritual yang lahir dari keyakinan dan latihan batin yang mendalam.
Asal-usul kesenian debus tidak bisa dipisahkan dari sejarah penyebaran Islam di Banten.
Berdasarkan catatan sejarah, debus berkembang pada abad ke-16, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin.
Saat itu, kesenian ini digunakan sebagai sarana dakwah untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam.
Debus memperlihatkan kekuatan tubuh yang diyakini bersumber dari keimanan dan doa, sehingga menjadi bukti nyata betapa kuatnya hubungan antara spiritualitas dan kekuatan manusia.
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa di abad ke-17, debus kemudian dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangkitkan semangat juang rakyat Banten dalam melawan penjajahan Belanda.
Melalui latihan spiritual dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, Sultan Ageng menanamkan keyakinan, keteguhan, dan rasa percaya diri kepada para prajurit agar mereka memiliki kekuatan lahir batin dalam mempertahankan tanah air.
Dari sinilah debus menjadi lebih dari sekadar pertunjukan; ia menjelma menjadi simbol perlawanan, keberanian, dan keteguhan iman.
Istilah “debus” sendiri diyakini berasal dari kata Arab dablus, yang berarti senjata penusuk dari besi runcing.
Dalam pertunjukan, debus juga mengacu pada alat utama yang digunakan: sebatang besi panjang dengan ujung tajam dan gagang besar dari kayu yang dihiasi rantai besi.