Mengenal Sandur Maduro, Seni Pertunjukkan Akulturasi Jawa dan Madura Asal Jombang

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Jumat, 24 Oktober 2025 | 22:40 WIB
Pertunjukan Sandur Manduro yang menghibur (kabar jombang)
Pertunjukan Sandur Manduro yang menghibur (kabar jombang)

KLIK SAJA – Mendengar kata ‘Jombang’, pikiran kita langsung menerawang pada sosok Gus Dur atau gambaran suatu peradaban santri di Jawa Timur.

Jombang, yang dikenal sebagai Kota Santri di Jawa Timur, ternyata tak hanya menyimpan kekayaan religius, tetapi juga warisan seni pertunjukan yang unik.

Salah satu yang masih bertahan hingga kini adalah Sandur Manduro, sebuah kesenian rakyat hasil akulturasi budaya Jawa dan Madura yang lahir dari perjalanan sejarah masa lalu.

Menilik sejarahnya, kesenian ini tak lepas dari kisah Trunojoyo, bangsawan berdarah Madura yang memimpin pemberontakan terhadap Kesultanan Mataram di masa pemerintahan Amangkurat I.

Pemerintahan yang keras serta aliansi Mataram dengan VOC membuat Trunojoyo dan pasukannya melakukan perlawanan besar-besaran.

Namun, perlawanan itu berujung pada kekalahan. Setelah diserang balik oleh VOC, Trunojoyo dan pasukannya berpencar ke berbagai wilayah di Jawa Timur, termasuk ke daerah Jombang.

Baca Juga: Memahami Filosofi Kesenian Reog Ponorogo yang Penuh Makna Kesetiaan Akan Kebenaran

Dari sinilah jejak kebudayaan Madura mulai membaur dengan kebudayaan lokal Jawa, melahirkan bentuk kesenian baru yang dikenal sebagai Sandur Manduro.

Ciri dan Keunikan Sandur Manduro

Seperti halnya Ludruk, Sandur Manduro mengangkat kisah-kisah sosial masyarakat dengan sentuhan pesan moral dan nilai-nilai kehidupan.

Bedanya, kesenian ini tampil dengan nuansa yang lebih sederhana namun tetap menarik, berkat penggunaan topeng, musik khas Madura, dan tarian ekspresif.

Topeng menjadi elemen utama dalam setiap pementasan. Warna merah dan putih mendominasi, melambangkan karakter dan emosi para tokohnya.

Ada pula topeng brangsan, yang menggambarkan tokoh-tokoh pewayangan seperti Klana, Bapang, dua Panji, dan dua Ayon-ayon.

Selain itu, beberapa topeng juga merepresentasikan hewan dalam cerita, seperti Jepaplok (macan), Manuk (burung), Celeng (babi), dan Sapen (sapi atau lembu).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X