Namun, seiring perkembangan, perempuan juga ikut serta agar keindahan seni tari semakin terlihat.
Kini, rampak bedug biasanya dimainkan oleh sekitar 10 orang: lima laki-laki dan lima perempuan.
Para laki-laki berperan sebagai pemukul bedug sekaligus kendang, sedangkan perempuan memukul bedug sambil menari.
Teknik dan Pertunjukan
Melodi rampak bedug muncul dari perpaduan lantunan shalawat dan tarian para pemain yang memukul bedug secara serempak.
Dalam beberapa atraksi, pemain laki-laki bahkan menaiki bedug dan memukulnya dari atas dengan posisi berdiri.
Bedug dimainkan dengan kentongan kayu, menggunakan teknik pukulan yang bervariasi—baik di bagian tengah, atas, maupun bawah—sehingga menghasilkan suara berbeda.
Nilai keindahan rampak bedug terletak pada kekompakan para pemain.
Gerakan serempak yang terinspirasi dari silat, iringan musik shalawat, tata busana, tata rias, hingga properti yang menyesuaikan dengan lokasi pertunjukan menjadikannya kesenian yang kaya makna.
Seiring popularitasnya, rampak bedug kini diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015.
Kesenian khas Banten ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara pemerintahan, keagamaan, hingga pernikahan.
Bahkan, beberapa sekolah menengah di Banten rutin mengadakan festival seni rampak bedug sebagai bentuk pelestarian budaya yang didukung pemerintah setempat.***