KLIK SAJA – Apa yang anda ketahui tentang bedug? Kebanyakan dari kita mengetahui fungsi dasarnya sebagai penanda shalat lima waktu di masjid-masjid lawas.
Bahkan mungkin anak-anak gen Z sama sekali tidak mengetahui keberadaan bedug sebagai sarana dakwah Islam di masa lampau, mengingat pada masa kini alat pemanggil yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau ini sudah jarang dipakai.
Keberadaan bedug di Nusantara mulai erat kaitannya dengan proses islamisasi yang intensif dilakukan para Wali Songo sekitar abad ke-15 hingga ke-16 Masehi.
Sejak saat itu, bedug ditempatkan di masjid-masjid dengan fungsi utama sebagai penanda waktu salat lima waktu bagi umat Islam.
Di Kawasan Pandeglang, memasuki tahun 1970, bedug mulai mendapatkan nilai seni dan budaya.
Saat itu, diadakan pesta ngadu bedug atau Pasanggiri di Alun-Alun Kota Pandeglang pada malam takbiran bulan Ramadan.
Dalam tradisi tersebut, bunyi bedug dari berbagai kampung dipertandingkan.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Saptonan, Simbol Heroisme Sambil Berkuda ala Warga Kuningan
Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi pertunjukan yang lebih atraktif, yaitu rampak bedug, dengan memasukkan unsur tari sebagai wujud kreasi dan estetika.
Lahirnya Rampak Bedug
Kesenian rampak bedug diyakini lahir dari kreativitas Haji Ilen bersama tiga sahabatnya: Burhata, Rahmat, dan Juju di era 70an.
Tari yang menyertainya terinspirasi dari gerakan silat di berbagai padepokan Pandeglang.
Musik pengiring berupa lantunan shalawat, sedangkan kostum para pemain adalah busana muslim dan muslimah yang dipadukan dengan nuansa kedaerahan.
Awalnya, rampak bedug hanya dimainkan oleh laki-laki karena kekuatan pukulan mereka menghasilkan suara bedug yang lebih nyaring.