Memahami Yadnya Kasada: Ritual Adat Orang Tengger Hormati Gunung Bromo

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 22 Juni 2025 | 21:39 WIB
Ritual Adat Yadnya Kasada di Bromo (lapak malang)
Ritual Adat Yadnya Kasada di Bromo (lapak malang)

KLIK Yadnya Kasada, atau yang kerap disebut Kasada Bromo, merupakan ritual adat tahunan suku Tengger yang sarat akan nilai spiritual dan penghormatan terhadap alam, khususnya Gunung Bromo.

Ritual ini digelar setiap tahun pada hari ke-15 dalam bulan Kasada—bulan ke-12 dalam penanggalan Tengger.

Upacara ini melibatkan masyarakat Tengger dari empat kabupaten di Jawa Timur: Pasuruan, Malang, Lumajang, dan Probolinggo.

Ribuan warga Tengger berkumpul di lautan pasir (segara wedhi) di kaki Gunung Bromo, membawa aneka sesaji seperti buah-buahan, sayur-mayur, ternak, dan hasil bumi lainnya.

Mereka berjalan kaki menuju kawah Bromo dan melemparkan sesaji tersebut ke dalamnya sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Widhi, rasa syukur, pengorbanan, penyucian diri, serta pelestarian hubungan harmonis dengan alam dan leluhur mereka.

Yadnya Kasada terbuka untuk umum dan tidak terbatas pada penganut agama Hindu saja.

Walaupun ritual ini sangat kental dengan nilai-nilai Hindu, masyarakat Tengger percaya bahwa berkah dari upacara ini dapat dirasakan oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama.

Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-13 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Orang Tengger meyakini bahwa memberi persembahan secara rutin ke kawah Bromo akan membawa perlindungan dan kesejahteraan.

Istilah “memberi korban” di sini dimaknai sebagai memberi sebagian dari hasil panen dan ternak sebagai bentuk balas budi kepada alam.

Gunung Bromo, yang merupakan gunung berapi aktif dan terendah di antara gunung-gunung di kawasan Tengger, dianggap suci.

Kawahnya menjadi tempat “pelabuhan” persembahan sebagai simbol komunikasi spiritual dengan leluhur mereka, terutama Kyai Kusuma atau Raden Kusuma.

Yadnya Kasada memiliki tiga tahapan utama.

Pertama, mendhak tirta (pengambilan air suci), dilanjutkan dengan makemit (tirakat berjaga tanpa tidur), dan melasti (penyucian alat-alat ritual).

Kedua, pembukaan Kasada yang dimeriahkan dengan pertunjukan seni seperti tari dan musik tradisional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X