Sebelum pelatihan, biasanya dilakukan ritual pengikatan tali di kepala kuda dan pembelaiannya dari kepala hingga ekor—sebagai bentuk penghormatan.
Dalam perayaan, prosesi arak-arakan dipimpin oleh sawi (penuntun kuda), diikuti oleh passarung (pengawal), serta iringan grup rebana laki-laki atau parrawanayang yang terus melantunkan selawat.
Kadang diselingi pembacaan kalindadaq, puisi lucu penuh petuah agama dan sindiran halus, yang mengundang tawa penonton.
Sayyang Pattuduq kini telah melampaui batas tradisi khataman Al-Qur’an. Ia juga digelar untuk menyambut tamu penting, wisatawan, atau sebagai bagian dari festival budaya.
Desa-desa seperti Balanipa dan Salabose rutin menghidupkan tradisi ini, menjadikannya ikon kebudayaan Mandar yang menggabungkan spiritualitas, seni, dan kekuatan perempuan dalam satu tarian agung di atas punggung kuda.***