Mengenal Tradisi Sayyang Pattuduq, Iringan Kuda Penari Khas Mandar Dalam Momen Maulid Nabi

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 19 Juni 2025 | 15:23 WIB
Barisan kuda penari Sayyang Pattuduq (blogspot)
Barisan kuda penari Sayyang Pattuduq (blogspot)

KLIK SAJA - Di antara derap langkah kuda dan denting rebana yang bertalu-talu, sebuah tradisi budaya penuh makna hidup dan terus lestari di tanah Mandar, Sulawesi Barat.

Namanya Sayyang Pattuduq, yang secara harfiah berarti “kuda menari”.

Tradisi ini bukan sekadar tontonan, tapi sebuah perayaan spiritual, budaya, dan kebanggaan masyarakat Mandar yang diwariskan turun-temurun.

Dalam pertunjukan Sayyang Pattuduq, seekor kuda berhias aksesori adat melenggak-lenggok mengikuti irama rebana.

Kepalanya mengangguk-angguk, kaki depannya menghentak dengan anggun, seolah mengerti bahwa ia adalah pusat perhatian.

Di punggungnya, duduk seorang perempuan dewasa berpakaian adat yang disebut pissawe, bersama anak yang telah khatam Al-Qur’an—laki-laki mengenakan gamis dan sorban, perempuan dengan kerudung pandawara.

Tradisi ini biasanya digelar untuk merayakan khataman Al-Qur’an oleh anak-anak dan seringkali dilakukan setelah 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan momen Maulid Nabi Muhammad SAW.

seorang anak gunakan pissawe di atas kuda
seorang anak gunakan pissawe di atas kuda (traveling Indonesia)

Momen ini memang sangat ditunggu-tunggu anak-anak suku Mandar yang sejak kecil kental dengan Pendidikan Islam.

Arak-arakan kuda menari ini menjadi motivasi bagi anak-anak untuk belajar mengaji hingga selesai, karena menjadi bagian dari Sayyang Pattuduq adalah sebuah kehormatan besar.

Menariknya, sejarah Sayyang Pattuduq diyakini bermula pada abad ke-16, saat Islam mulai berkembang di tanah Mandar.

Awalnya, kuda merupakan simbol kekuasaan dan kemewahan. Namun setelah Islam masuk, peran kuda berubah: ia dilatih menjadi bagian dari pendidikan spiritual.

Para santri bahkan harus mampu melatih kuda menari sebagai tanda keberhasilan mereka.

Pelatihan kuda Sayyang Pattuduq berlangsung intensif. Para pelatih—yang jumlahnya sangat terbatas—mengajarkan gerakan khas seperti mengangguk dan menghentak kaki depan mengikuti irama rebana dan lantunan selawat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X