Mengenal Tradisi Barong Ider Bumi, Ritual Tolak Bala Suku Osing Banyuwangi Saat Lebaran

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 14 April 2025 | 14:40 WIB
Prosesi pawai arak-arakan Barong Ider Bumi Suku Osing Banyuwangi (Kemenko PMK)
Prosesi pawai arak-arakan Barong Ider Bumi Suku Osing Banyuwangi (Kemenko PMK)

KLIK SAJA - Banyuwangi bukan hanya dikenal sebagai “Sunrise of Java” karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan budaya yang hidup dan lestari di tengah masyarakatnya.

Salah satu tradisi unik yang menjadi warisan turun-temurun adalah Barong Ider Bumi, sebuah ritual tolak bala yang dilaksanakan oleh suku Osing, masyarakat adat asli Banyuwangi.

Tradisi ini selalu rutin digelar setiap hari kedua Bulan Syawal, atau satu hari setelah Lebaran.

Barong Ider Bumi bukan sekadar ritual hiburan, melainkan sebuah upacara spiritual yang sakral.

Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk pembersihan diri dan bumi dari segala mara bahaya, termasuk penyakit, kesialan, serta energi negatif yang menimpa desa selama satu tahun terakhir.

Upacara ini juga menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan agar desa diberi keselamatan, kesuburan, dan kemakmuran di tahun yang akan datang.

Baca Juga: Mengenal Tari Lenso Maluku, Tarian Muda-Mudi yang Berakar Dari Budaya Portugis

Ritual ini dimulai dengan pengarakan barong, sosok mitologis yang menggambarkan kekuatan kebaikan, berkeliling desa.

Meski sosok barong berasal dari budaya Bali, masyarakat Osing yang juga memiliki akar kebudayaan Majapahit memaknainya dengan cara tersendiri.

Barong dalam tradisi ini dianggap sebagai raja arwah pelindung yang menolak bala dan membawa berkah.

Sepanjang rute arak-arakan, barong menari-nari dengan iringan gamelan dan musik tradisional, diikuti oleh warga dari segala usia, mulai dari anak-anak hingga sesepuh.

Tak hanya itu, berbagai kesenian khas Banyuwangi ikut meramaikan prosesi ini, seperti tari Gandrung, Burdah, Singo-Singoan, dan Hadrah Kuntulan.

Seni dan ritual bercampur menjadi satu kesatuan ekspresi budaya yang hidup dan dinamis.

Bagian spiritualnya tak kalah menarik. Di sepanjang perjalanan, dilantunkan tembang macapat, bentuk puisi Jawa kuno yang berisi doa-doa kepada Sang Pencipta dan para leluhur.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X