Mengenal Tari Lenso Maluku, Tarian Muda-Mudi yang Berakar Dari Budaya Portugis

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 14 April 2025 | 11:04 WIB
Tarian Lenso dipentaskan pada sebuah acara (dinas pariwisata Maluku)
Tarian Lenso dipentaskan pada sebuah acara (dinas pariwisata Maluku)

KLIK SAJA - Tari Lenso merupakan salah satu tarian tradisional yang ternyata memiliki nilai sejarah dan kebudayaan tinggi di Indonesia, khususnya di kawasan Timur, yakni Maluku.

Tarian ini terkenal sebagai simbol pergaulan, keceriaan, dan penghormatan dalam kehidupan masyarakat Maluku.

Lebih dari sekadar hiburan, Tari Lenso mencerminkan akulturasi budaya antara budaya lokal dan pengaruh Portugis yang datang berabad-abad silam.

Nama “Lenso” sendiri berasal dari bahasa Portugis yang berarti “sapu tangan”. Unsur ini menjadi ciri khas dalam pertunjukan tari Lenso—sapu tangan atau selendang dipegang para penari dan digunakan sebagai media dalam menyampaikan pesan tarian.

Gerakan lembut para penari, ditambah dengan ayunan sapu tangan yang lincah, memberikan nuansa ceria dan ramah dalam setiap penampilannya.

Tari ini mulai dikenal di Maluku sejak zaman penjajahan Portugis, dan kembali dipopulerkan oleh Belanda, terutama saat perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina di Ambon pada 31 Agustus 1612.

Pada momen inilah tari Lenso pertama kali ditampilkan secara terbuka dalam pesta rakyat. Awalnya, hanya masyarakat Desa Kilang yang diperbolehkan membawakan tarian ini, menjadikannya sebagai warisan budaya yang eksklusif.

Namun, lambat laun, tari Lenso menyebar ke berbagai wilayah di Maluku, terutama di komunitas Kristen seperti di Pulau Ambon, Seram, dan Kepulauan Lease.

Penyebaran Tari Lenso pun semakin meluas berkat peran Presiden Soekarno di era Orde Lama, yang kerap menjadikan tarian ini sebagai bagian dari diplomasi budaya saat kunjungan ke luar negeri atau saat menyambut tamu-tamu negara.

Dalam perkembangannya, Tari Lenso tidak hanya ditampilkan dalam acara hiburan, tetapi juga sebagai bentuk penyambutan tamu kehormatan dan pertunjukan adat.

Gerakannya yang anggun dianggap sebagai lambang penghormatan dan sambutan yang tulus. Selain itu, tarian ini juga menjadi media pengikat hubungan sosial dan kekerabatan antar warga.

Keunikan tari Lenso juga tampak pada aspek visual. Kostumnya tergolong sederhana namun tetap mencerminkan keanggunan perempuan Maluku.

Penampilan para penari tetap mencuri perhatian, terutama karena kelincahan gerak yang dipadu dengan atribut khas berupa sapu tangan.

Alat musik pengiringnya pun khas, seperti totobuang—alat musik berbahan kuningan mirip bonang, dan tifa, gendang tradisional khas Maluku yang terbuat dari kayu dan kulit hewan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X