Mengenal Tradisi Makepung, Balapan Kerbau Hias Khas Bali

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Rabu, 9 April 2025 | 05:11 WIB
tradisi Balapan Kerbau Makepung Khas Bali (Traditional Sports)
tradisi Balapan Kerbau Makepung Khas Bali (Traditional Sports)

KLIK SAJA - Di balik keindahan alam dan budaya Bali yang memikat dunia, tersimpan tradisi unik yang mungkin belum banyak diketahui wisatawan—Makepung, balapan kerbau hias yang penuh warna dan semangat.

Tradisi unik ini berasal dari Jembrana, Bali Barat, dan telah menjadi warisan budaya yang tidak hanya menghibur, namun juga menyatukan masyarakat dalam semangat kompetisi dan kebanggaan lokal.

Makepung, yang berarti "berkejaran" dalam bahasa Bali, pada awalnya bukanlah ajang hiburan.

Sebelum populer pada tahun 1930-an, balapan ini diadakan di lahan sawah basah sebagai cara untuk mempercepat pengolahan tanah pertanian.

Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi perlombaan yang digelar secara resmi di lahan kering, lengkap dengan sistem kompetisi.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Pawai Pegon Jember Saat Lebaran, Simbol Keberkahan dan Kebersamaan

Perlombaan ini bukan sekadar balapan biasa. Ratusan pasang kerbau, dikenal sebagai kerbau pepadu, dipasangkan dan ditunggangi joki yang berdiri di atas bajak kayu tradisional yang telah dimodifikasi.

Kerbau-kerbau tersebut tidak hanya dilatih untuk kecepatan, tetapi juga dihias dengan sangat meriah—tanduk mereka dicat, dihiasi pita warna-warni, dan dilengkapi lonceng kayu yang bergemerincing sepanjang lomba.

Keunikan Makepung tidak hanya terletak pada lombanya, tetapi juga pada suasana budaya yang menyertainya.

Sebelum lomba dimulai, tim-tim dari dua wilayah berbeda—Tim Timur dan Tim Barat—berbaris dengan pakaian khas.

Tim Timur mengenakan seragam merah, sementara Tim Barat tampil dengan seragam hijau.

Mereka bertanding dalam lintasan sawah sepanjang 125 meter, biasanya empat pasang kerbau berlaga dalam satu putaran.

Momen dramatis kerap terjadi ketika joki terjatuh dan terguling di lumpur, disambut sorak sorai penonton.

Kemeriahan semakin lengkap dengan iringan Gamelan Jegog, ansambel musik bambu khas Jembrana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X