Jika semakin banyak kandungan tembaga pada logam alat musik talempong, maka suaranya pun akan semakin baik.
Kesenian Talempong telah menyatu dalam kehidupan masyarakat adat di Minangkabau dan dimainkan saat acara-acara khusus.
Umumnya talempong dimainkan bersama alat musik tradisional Minang lainnya, seperti gendang, saluang, dan sarunai.
Talempong juga kerap dijadikan panduan tempo dari musik yang sedang dimainkan.
Terdapat dua cara memainkan talempong, yaitu dengan teknik tradisional (interlocking) dan teknik modern.
Baca Juga: 4 Oleh-oleh Unik Dari Lombok, Wajib Beli Sebagai Tanda Mata
Kedua teknik tersebut sama-sama menghasilkan nada-nada pentatonik, ciri khas alat musik tradisional.
Pada teknik tradisional atau yang disebut talempong pacik biasanya dimainkan oleh tiga orang dan masing-masing memainkan dua talempong.
Caranya, dipegang dengan tangan kiri secara vertikal, atas dan bawah. Yang atas dijepit ibu jari dan telunjuk, sedangkan yang bawah digantungkan pada jari tengah, manis dan kelingking.
Jari telunjuk menjadi pemisah antara kedua talempong, hingga membuat suara talempong nyaring.
Pada teknik pertama itu, tangan kanan berfungsi memegang dan memukulkan stick ke perangkat talempong.
Cara memainkan seperti ini dikenal sebagai teknik dipacik atau dipegang.
Masyarakat di Sumbar memahaminya dengan talempong pacik.
Ada tiga jenis talempong pacik berdasarkan kategori suara yang dihasilkan, yaitu talempong jantan, talempong batino (betina), dan talempong pengawin.