Mari Mengenal Kebudayaan Batu Besar di Sulawesi Tengah, ‘Negeri Seribu Megalit’

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 17 Desember 2024 | 10:30 WIB
Patung besar peninggalan Megalitikum di Lembah Nada, Sulteng (RRI)
Patung besar peninggalan Megalitikum di Lembah Nada, Sulteng (RRI)

KLIK SAJA - Indonesia kaya akan peninggalan budaya mahakarya penduduknya termasuk pada zaman batu besar atau megalitikum dan kerap disebut pula sebagai era pra-aksara.

Era ini ditandai oleh kebiasaan masyarakatnya yang menghasilkan budaya berupa batu berukuran besar seperti menhir atau dolmen sebagai bentuk kepercayaan terhadap roh nenek moyang. 

Sisa-sisa peninggalan budaya batu besar terserak pada sejumlah kawasan di Nusantara.

Salah satunya adalah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Provinsi seluas 61.841 kilometer persegi itu menyimpan kisah peradaban batu-batu zaman megalitikum sekaligus mengungkap misteri yang terjadi pada masa sebelum masehi.

Baca Juga: Menikmati Keindahan Air Terjun Otak Kokoq di Lombok, Dijamin Menenangkan Jiwa!

Bahkan saking banyaknya peninggalan kebudayaan batu besar disana, pemerintah setempat menyebut Sulteng adalah “Negeri Seribu Megalit”

Tersebutlah nama Albertus Christian Kruyt dan Nicolas Adriani, dua peneliti berkebangsaan Belanda dan Amerika Serikat (AS), yang mengungkap awal mula peninggalan megalitik di Sulteng pada tahun 1898 lewat karya ilmiahnya Van Poso naar Parigi en Lindoe.

Peninggalan patung megalitikum di lore lindu, Sulteng
Peninggalan patung megalitikum di lore lindu, Sulteng (Dinas Pariwisata Sulteng)

Tujuh tahun kemudian, giliran penjelajah alam bersaudara asal Swiss, Paul Benedict Sarasin dan Karl Friedrich Sarasin menggelar perjalanan ke Sulteng era 1893--1903 dan menuangkan pengalamannya dalam buku Reisen in Celebes.

Semenjak itu, semakin banyak jumlah penjelajah datang ke Sulteng untuk menggelar riset dan penelitian demi menguak peninggalan batu besar dari era di 3.000 tahun lampau.

Baca Juga: Sensasi Gokil Diving Air Tawar di Umbul Ponggok, Seru dan Menyegarkan!

Seperti Harry Cushier Raven dari Amerika Serikat dan peneliti Swedia, Walter Kaudern.

Dimana melalui bukunya The Stone Images and Vats of Central Sulawesi yang terbit pada 1926 mengatakan bahwa dirinya pergi ke Sulteng pada 1917 dan tinggal di sana selama setahun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Indonesia.go id

Tags

Rekomendasi

Terkini

X