Keberhasilan itu adalah hasil dari pembangunan sistem sepak bola yang komprehensif dan berkelanjutan.
Penilaian Bepe ini menegaskan bahwa kesiapan mental dan struktural lingkungan sepak bola jauh lebih penting dari sekadar performa sesaat.
Introspeksi yang Hilang di Tengah Amarah Publik
Dalam pandangan Bepe, kritik publik terhadap tim nasional sering kali berlebihan dan tidak berdasar data.
Eks pemain Persija Jakarta itu menilai, masyarakat harus belajar menilai dengan objektif, bukan hanya berdasarkan emosi sesaat.
“Rasanya, kita belum terlalu siap dalam konteks membangun semuanya untuk bisa tim kita stabil di level perebutan Piala Dunia,” ujar Bepe.
Ia lantas mengingatkan, dukungan terhadap tim seharusnya tidak hanya muncul ketika Indonesia menang.
“Ini waktu paling krusial untuk mendukung tim nasional, bukan saat mereka di atas saja, tapi justru ketika mereka jatuh,” tegas Bepe.
Sikap reflektif ini kontras dengan perilaku sebagian warganet yang justru sibuk menyalahkan pelatih dan pemain di dunia maya.
Bepe mengingatkan, komentar tanpa dasar data dan fakta, hanya akan memperkeruh suasana.
“Kita harus berhati-hati untuk menyampaikan sesuatu, karena bisa memperkeruh suasana,” tegasnya.
Berkaca dari hal itu, suasana panas setelah kekalahan Timnas Indonesia atas Jepang dengan skor 6-0 seakan sebelumnya menelan akal sehat sebagian pendukung Garuda.
Kala itu, media sosial dipenuhi komentar sinis, bahkan menyudutkan pemain dan pelatih.