olahraga

Pemecatan STY Karena Faktor Bahasa, Kok Bisa?

Selasa, 7 Januari 2025 | 04:25 WIB
STY ketika bersama ofisial dan segenap tenaga penerjemah timnas (cdn)

KLIK SAJA – Bak disambar petir di siang bolong, publik pecinta sepakbola tanah air dikejutkan dengan pemecatan Shin Tae Young dari kursi kepelatihan Timnas Indonesia.

Banyak spekulasi bermunculan alasan pemecatannya, mulai dari kekalahan dari China saat kualifikasi Piala Dunia, buruknya performa saat turnamen AFF, hingga konflik dengan beberapa pemain.

Namun adapula beberapa pengamat mengatakan bahwa salah satu faktor pemecatan STY adalah kendala bahasa.

Banyak publik yang tidak mengetahui bahwa pada saat perpanjangan kontrak baru pada tahun lalu, salah satu klausulnya adalah tuntutan bagi sang pelatih untuk lancar berbahasa Indonesia.

Hal tersebut tentunya beralasan, mengingat dirinya sudah 4 tahun lebih menahkodai punggawa Garuda, sebuah masa yang terhitung cukup lama untuk ukuran pelatih timnas.

Sehingga seharusnya dirinya harus sadar diri, untuk setidaknya dapat berbahasa Indonesia, minimal untuk kosakata teknis kepelatihan.

Walau tidak ada pernyataan resmi dari PSSI tentang alasan pemecatannya, namun jika dianalisa lebih dalam, memang kendala bahasa-lah yang menjadi faktor penyebab utama pemecatannya, namun bagaimana penjelasannya.

Hingga akhir masa kepelatihannya yang berakhir pada tanggal 6 Januari 2025, STY ternyata masih belum bisa memenuhi tuntutan PSSI agar dapat segera bisa berbahasa Indonesia.

Maksud PSSI agar STY dapat dengan lancar berbahasa Indonesia ternyata memiliki cukup banyak alasan.

Pertama, yaitu STY ternyata juga tidak lancar berbahasa Inggris, padahal hampir seluruh pemain timnas mampu berbahasa Inggris, termasuk pemain lokal.

Sehingga hal tersebut tentunya dapat menghambat komunikasi antara pelatih dan pemain, bahkan bagi penterjemah sekalipun.

Kedua, dikarenakan STY tidak bisa berbahasa Indonesia dan Inggris, sehingga menyebabkan banyaknya tenaga penterjemah yang harus direkrut.

Mengingat timnas sekarang juga dihuni banyak pemain diaspora, maka penyampaian pesan STY harus berantai, mulai dari bahasa Korea ke bahasa Inggris, lalu ke bahasa Indonesia, jika ada pemain lokal yang tak bisa berbahasa Inggris.

Banyaknya tenaga penterjemah yang harus direkrut, tentunya membuat kesolidan ofisial dan pemain kurang bisa terpadu.

Halaman:

Tags

Terkini