Ketiga, peran seorang pelatih menjadi sangat sentral pada saat pertandingan berlangsung, maka faktor bahasa sebagai alat komunikasi menjadi vital.
Kita sering melihat STY kerap berteriak di sisi lapangan saat pertandingan timnas untuk memberikan instruksi.
Namun sangat disayangkan, dirinya berteriak menggunakan bahasa ibunya, Korea, sehingga instruksinya harus dilanjutkan dengan penterjemah.
Walhasil, pesan yang ditangkap oleh pemain tentunya kurang mendapat respon yang mendalam.
Terlepas dari itu, harus kita akui kepiawaian STY dalam meramu sistem strategi timnas memang luar biasa.
Hal tersebut bisa dilihat dengan peningkatan rangking FIFA, dan prestasi dalam beberapa turnamen.
Namun jika seandainya ia berusaha keras untuk belajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, tentunya bisa saja kondisi timnas bisa menjadi lebih baik.
Hal tersebut dikarenakan jika komunikasi dapat berjalan lancar antara pemain dan pelatih, maka instruksi yang diberikan dapat dipahami betul oleh seluruh tim.
Calon pengganti STY sudah dipastikan seorang Meneer Belanda, info terakhir nama yang santer diberitakan adalah mantan bintang timnas Oranye, Patrick Kluivert.
Pemilihan pelatih timnas yang berasal dari Belanda, dirasakan sangat tepat.
Hal tersebut dikarenakan sebagian besar pemain diaspora adalah berasal dari keturunan Belanda, sehingga tentunya komunikasi yang terjalin bisa sangat baik.
Begitu pula pemain lokal pun yang sebagian besar mampu berbahasa Inggris, tentunya sangat mudah berkomunikasi dengan pelatih yang berasal dari Eropa.
Terima kasih STY, selamat datang Timnas Baru Rasa Eropa.***