KLIK SAJA - Performa terkini AS Roma memang masih jauh di bawah standar tetangga sekotanya Lazio. Pergantian pelatih dari De Rossi, Ivan Juric, hingga kini ditangani Claudio Ranieri menunjukkan problem Gialorossi masih belum juga usai.
Kini menjalani Derby della Capitale jilid 1 di musim 2024/2025, setidaknya Romanisti punya satu keyakinan, yang meskipun kecil, dapat berpengaruh pada hasil akhir pertandingan.
Faktor itu adalah pengalaman Claudio Ranieri yang sudah menjalani empat derby ini saat menangani AS Roma periode 2009-2011 dan memenangi semuanya. Sementara, Marco Baroni di sisi seberang baru akan menjalani derby perdananya.
Kendati demikian, The Tinkerman tidak mau jumawa dan ia menganggap bahwa permainan Lazio sekarang bagaikan autopilot.
“Saya tidak menganggapnya sebagai penentu. Ia akan berjalan dengan autopilot, begitu pula tim Lazio – kita harus menyadari hal itu. Ia akan merasakan indahnya derby sebagai pelatih. Ada tanggung jawab yang berbeda menjadi pelatih dibandingkan menjadi pemain, tetapi hanya itu. Ia akan berjalan dengan autopilot,” ujarnya dalam konferensi pers dikutip dari situs resmi AS Roma.
Laga AS Roma versus Lazio akan kickoff di Olimpico pada Senin (6/1/2025) pukul 02.45 dini hari WIB.
Persiapan Kedua Tim
Paska ditaklukkan Como 0-2 16 Desember lalu, Gialorossi mengalami peningkatan signifikan di semua aspek permainan. Sampdoria mereka singkirkan di 16 besar Coppa Italia, disusul kemenangan 5-0 atas Parma, dan skor imbang 1-1 melawan AC Milan akhir tahun lalu.
Pada laga di San Siro tersebut, Tijjani Reijnders membuka keunggulan tuan rumah sebelum Paulo Dybala menyakamakan kedudukan beberapa menit berselang. Hasil imbang itu membuat sebuah drama besar di kubu AC Milan yang berujung pemecatan Paulo Fonseca.
AS Roma pulang dengan lapang dada, karena kini mereka menempati urutan ke sepuluh dengan perolehan 20 poin.
Lini depan mereka terlihat membaik, dan duet Dybala-Artem Dovbyk semakin menunjukkan perpaduan solid.
Namun satu pemain mulai tersingkir, yakni sang kapten Lorenzo Pellegrini. Ditanya mengenai hal ini, Ranieri paham akan keputusannya yang merupakan pilihan terbaik bagi tim dan Pellegrini sendiri.
"Itu keputusan psikologis. Secara teknis, seperti yang selalu saya katakan, dia adalah salah satu gelandang terbaik di Eropa. Hanya sedikit gelandang yang mencetak gol dan tim mana pun yang memiliki pemain seperti ini harus menghargai mereka. Masalah dengan para penggemarlah yang menggerogoti dirinya. Saya harus memperhitungkan apakah itu memengaruhi pemain atau tidak."