olahraga

Rivellino, Legenda Brasil yang Berkumis Tebal dan Jago Dribel

Rabu, 1 Januari 2025 | 09:05 WIB
Roberto Rivellino tampak sangat berkharisma dengan kumis tebalnya (transfermarkt)

KLIK SAJA - Berkumis tebal, berkharisma, gaya mainnya terlihat santai namun berteknik tinggi, ialah Roberto Rivellino, salah satu legenda sepakbola Brazil.

Kebintangannya memang tertutupi mega bintang Pele, walau demikian teknik bermain Rivellino tak bisa dianggap sepele.

Bisa dikatakan ia adalah salah satu pemain pencetus gaya dribel modern dengan bermacam teknik dan masih digunakan oleh pemain jaman sekarang.

Roberto Rivellino lahir pada 1 Januari 1946 di São Paulo, sepintas baik gaya rambutnya, kumisnya dan perawakannya mirip dengan pemimpin revolusioner legendaris Amerika Latin, Che Guevara, membuat dirinya tampak berkharisma ketika di tengah lapangan.

Ia adalah anak dari seorang imigran asal Italia, dia sangat dikenali karena kumis tebalnya, tendangan bebas jarak jauhnya, umpan jauhnya yang akurat, pemain yang cerdas di lapangan serta kemampuan luar biasa dalam menguasai bola.

Aksi Rivellino ketika mengecoh pemain lawan lewat teknik tingginya (liputan 6)

Dia juga yang memperkenalkan gerakan yang di kenal sebagai "flip-flap", yang sering dimainkan oleh Ronaldinho, Cristiano Ronaldo dan Zlatan Ibrahimović.

Bisa dikatakan ia adalah pemain yang sangat sulit direbut bolanya, karena memiliki banyak teknik 'keeping ball' level dewa.

Dia juga dipercaya sebagai salah satu pemain paling bersinar di Selecao dan salah satu pemain tengah terbaik di masanya.

Karir Klub

Rivellino mulanya memulai kariernya sebagai seorang pemain futsal di Clube Atletico Barcelona.

Setelah itu kemudian ia mencoba pindah ke rival terbesar Barcelona di futsal yaitu Corinthians.

Hingga kemudian membawanya ke jenjang sepak bola profesional dan segera menjadi pujaan para fans klub tersebut  dan memberinya julukan "O Rei do Parque"  yang artinya Rajanya Parque, diambil dari nama stadion Corinthians yakni Parque São Jorge.

Walau demikian,  pada akhir 60-an dan awal 70-an merupakan salah satu masa terburuk dalam sepanjang sejarah klub tersebut, yang mana tak mampu meraih satu gelar pun sejak 1954 hingga 1977.

Halaman:

Tags

Terkini