KLIK SAJA - Gabon yang telah dipastikan tersingkir tidak memiliki target lain selain menjaga harga diri saat menghadapi juara bertahan Piala Afrika, Pantai Gading, pada laga terakhir Grup F yang digelar Rabu waktu setempat.
Sementara itu, The Elephants masih belum mengamankan posisi akhir mereka di “Grup Neraka”.
Tim asuhan Emerse Faé datang ke pertandingan di Marrakesh dengan ambisi mempertahankan rekor tak terkalahkan mereka di Piala Afrika sejak dilatih mantan gelandang tersebut.
Sebelum turnamen dimulai, Gabon diprediksi mampu bersaing memperebutkan posisi teratas Grup F. Namun kenyataannya, The Panthers justru harus angkat koper setelah menelan dua kekalahan dari dua pertandingan.
Meski banyak pihak tidak memprediksi pasukan Thierry Mouyouma akan kalah dari Kamerun pada laga pembuka—mengingat kekacauan yang mewarnai perjalanan The Indomitable Lions ke Maroko—kekalahan dari Mozambik pada Minggu justru menimbulkan kejutan besar di seantero benua.
Datang ke Piala Afrika 2025 dengan catatan tanpa kemenangan dalam 15 pertandingan di ajang kontinental ini, Mozambik memperpanjang rekor tersebut menjadi 16 laga saat kalah dari Pantai Gading.
Namun, tren itu terhenti saat mereka menghadapi Gabon pada Minggu, dalam laga dramatis yang menghasilkan lima gol.
Tertinggal 0-2 dan kemudian 1-3, pasukan Mouyouma gagal mengamankan hasil imbang yang dibutuhkan untuk tetap menjaga peluang lolos ke laga terakhir fase grup.
Dengan Kamerun dan juara bertahan Afrika sama-sama mengoleksi empat poin, serta Mozambik mengantongi tiga poin, Gabon sudah dipastikan tidak dapat melaju bahkan sebagai salah satu dari empat tim peringkat ketiga terbaik.
Kekalahan dari Mozambik menjadi penentu, karena rekor pertemuan langsung menjadi kriteria utama penentuan klasemen.
Berusaha memanfaatkan lawan yang telah tersingkir, pasukan Faé melakoni laga Rabu ini dengan modal tidak terkalahkan dalam enam pertandingan terakhir Piala Afrika, sebuah rangkaian yang dimulai sejak edisi sebelumnya.
Meski sempat berada di bawah tekanan pada Piala Afrika 2023 sebagai tuan rumah, Faé mengambil alih tim di tengah turnamen saat Pantai Gading hanya lolos tipis sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Namun, setelah hampir dua tahun memimpin, mantan gelandang itu membawa Pantai Gading ke turnamen ini bukan hanya sebagai juara bertahan, tetapi juga dengan modal kualifikasi Piala Dunia yang impresif—tak terkalahkan dan tanpa kebobolan.