KLIK SAJA - Inggris berambisi melanjutkan tren positif mereka dengan meraih kemenangan kelima beruntun di kualifikasi Piala Dunia 2026 ketika bertandang ke Beograd pada Selasa malam waktu setempat untuk menghadapi Serbia.
The Three Lions saat ini memimpin Grup K dengan koleksi 12 poin, unggul lima poin dari Serbia yang menempati posisi kedua.
Namun, tuan rumah masih menyimpan satu laga tunda, sehingga kemenangan akan memangkas jarak menjadi hanya tiga poin.
Serbia memulai kampanye kualifikasi mereka dengan hasil imbang tanpa gol melawan Albania pada 7 Juni.
Namun, setelah itu mereka berhasil meraih dua kemenangan beruntun atas Andorra dan Latvia.
Dengan empat gol tercipta tanpa sekalipun kebobolan dari tiga laga, Serbia kini mengoleksi tujuh poin dan duduk di posisi kedua klasemen.
Skuad asuhan Dragan Stojkovic menargetkan setidaknya tiket playoff, namun kemenangan melawan Inggris akan menjadi dorongan besar dalam upaya merebut posisi puncak.
Dalam sejarah, Serbia sudah tiga kali lolos ke putaran final dari empat edisi terakhir Piala Dunia. Sayangnya, mereka selalu tersingkir di fase grup pada 2010, 2018, dan 2022, serta juga gagal melangkah lebih jauh dari fase grup Euro 2024.
Baca Juga: Prediksi Hungaria Vs Portugal, Upaya Ronaldo Cs Bidik Kemenangan Kedua di Kandang The Magyar
Kedua tim terakhir kali bertemu di fase grup Euro 2024, dengan Inggris keluar sebagai pemenang berkat gol tunggal Jude Bellingham.
Inggris mencatat kemenangan keempat beruntun di Grup K usai menundukkan Andorra 2-0 pada Sabtu lalu. Meski begitu, performa mereka dinilai belum meyakinkan, mengingat Andorra hanya menempati peringkat ke-174 dalam daftar FIFA.
Gol bunuh diri Christian Garcia dan tambahan gol Declan Rice sudah cukup menjaga posisi Inggris di puncak klasemen. Namun, mereka hanya mampu mencetak tiga gol dari dua pertemuan melawan Andorra di grup ini.
Tim asuhan Thomas Tuchel sebelumnya juga menang atas Latvia dan Albania, dan sejauh ini mereka belum pernah kebobolan di sepanjang kualifikasi.
Pertahanan Inggris tampil solid, namun sorotan tetap tertuju pada konsistensi permainan, terlebih Tuchel berada di bawah tekanan besar setelah Inggris hanya menjadi finalis di dua edisi terakhir Piala Eropa.